Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Peningkatan Peranan Wanita
27 Des 2015

Peningkatan Peranan Wanita

Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) diawali dengan pelaksanaan Crash Program Keluarga Sehat pada tanggal 22 Desember 1978 sampai dengan 21 April 1979, kemudian menjadi Program Terpadu P2WKSS pada tahun 1979. Untuk memantapkan kembali maka pada tahun 2007 Program Terpadu P2WKSS telah di revitalisasi sesuai dengan kebutuhan otonomi daerah. P2WKSS merupakan salah satu program peningkatan peranan wanita dalam pembangunan, yang berupaya untuk mengembangkan sumber daya manusia dan sumber daya alam dan lingkungan untuk mewujudkan dan mengembangkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia dalam rangka pembangunan masyarakat desa/kelurahan, dengan perempuan sebagai motivator penggerak.   Kegiatan penilaian ini merupakan hasil dari pembinaan Tim Daerah dalam rangka peningkatan dan pemberdayaan perempuan di suatu Desa/Kelurahan untuk memudahkan Tim Penilai dalam memberikan penilaian Program Terpadu P2WKSS tersebut maka dipandang perlu mengeluarkan buku panduan penilaian program Terpadu P2WKSS. Terdapat beberapa maksud dan guna pemberian penghargaan kepada para pelaksanaan progam terpadu P2WKSS yakni untuk mendorong dan meningkatkan gairah para pelaksana di daerah/wilayah agar menumbuhkembangkan prestasi dalam melaksanakan program . Menetapkan desa pelaksana P2WKSS yang berhasil menyelenggarakan program terpadu P2WKSS yang sesuai kebijakan yang digariskan. Sedangkan tujuan nya yakni untuk menilai hasil pelaksanaan Program Terpadu P2WKSS dan dampaknya, dengan fokus memperoleh gambaran efektifitas pelaksanaan, dampak program terhadap kesetaraan dan keadilan gender, serta peran, akses, kontrol dan manfaat yang dirasakan perempuan beserta keluarga di desa. Kemudian untuk menetapkan kelompok pelaksana yang atas prestasi yang dicapai dalam melaksanakan Program Terpadu P2WKSS. Sedangkan Sasaran utama ialah penghargaan diberikan kepada kelompok pelaksana Program Terpadu P2WKSS di desa  menurut penilaian Gubernur bahwa yang bersangkutan paling berhasil di propinsi. Kriteria penilaian atas keberhasilan pelaksanaan program terpadu peningkatan peranan Wanita disuatu desa didasarkan atas kriteria, sebagai berikut : 1.Hasil kualitatif dan kuantitatif yang dicapai dalam pelaksanaan Program Terpadu P2WKSS di berbagai bidang di desa yang bersangkutan; 2.Kesadaran, intensitas dan ketekunan PKK dalam membina pelaksanaan Program Terpadu P2WKSS 3.Kesadaran, intensitas peran, dan ketekunan kaum perempuan peserta gerakan PKK di desa proyek yang bersangkutan didalam melaksanakan Program Terpadu P2WKSS; 4.Kesadaran, intensitas dan ketekunan Tim Penggerak PKK Kecamatan dalam menggerakkan kaum perempuan dalam melaksanakan Program Terpadu P2WKSS; 5.Semangat gotong royong dan intensitas koordinasi diantara para penggerak, pembina dan peserta sehingga program tersebut dapat dilaksanakan secara terpadu. Pelaksanaan disesuaikan dengan kerjasama antara Badan Pemberdayaan masyarakat dan Biro Pemberdayaan Perempuan atau Instansi yang menangani TP. PKK setempat dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tentang Revitalisasi P2WKSS. Latar belakang pembentukan P2WKSS karena adanya krisis ekonomi, dan sasaran program tersebut adalah para perempuan yang tergolong jauh dari kesejahteraan dan para Ibu Rumah Tangga. Sekarang ini kaum wanita tidak lagi dinggap sebagai kaum ‘wingking’ tetapi wanita semakin dituntut peranannya untuk ikut mengisi dan berpartisipasi dalam pembangunan, pemerintahan maupun kemasyarakatan. Termasuk upaya memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Program terpadu P2WKSS , merupakan salah satu program peningkatan peranan wanita dalam pembangunan yang berupaya untuk mengembangkan sumber daya manusia dan sumber daya alam dan lingkungan, untuk mewujudkan dan mengembangkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia dalam rangka pembangunan masyarakat dengan wanita sebagai penggeraknya. Disana para anggota akan di bimbingan dan di beri pelatihan agar mereka dapat menghasilkan suatu barang yang bisa bernilai ekonomis, sehingga dengan hasil tersebut dapat membantu meningkatan perekonomian para anggotanya. pemberantasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan perempuan di nilai akan lebih tepat, karena hal tersebut  mampu mendorong upaya perempuan untuk lebih maju.“Harapan dengan kegiatan ini akan lebih mempunyai daya angkat yang besar dengan motor penggerak adalah kaum perempuan. Dengan demikian tujuan kemandirian keluarga di bidang ekonomi, kesehatan dan lainnya dapat terwujud. Sementara itu Ketua Tim Penilai P2WKSS Tingkat Provinsi Babel, Leni Rustam Effendy  mengatakan kriteria penilaian lomba P2WKSS meliputi kelengkapan administrasi, adanya peningkatan peranan wanita, pertumbuhan nilai ekonomi, adanya perubahan pola sikap dan pola tindak yang lebih baik setelah adanya program P2WKSS. Diharapkan dengan kehadiran P2WKSS tersebut dapat mensejahterakan setiap keluarga di Babel dan mampu menjadi menunjang dan menaikkan penghasilan keluarga serta istri dapat menjadi tim dan partner bagi suami dalam menunjang kebijakan suami dalam bekerja untuk bangsa dan negara.(js)

Jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya
 Makna Hari Nusantara
20 Des 2015

Makna Hari Nusantara

Pemerintah Indonesia mengumumkan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau di dalamnya, dengan tidak memandang luas atau lebar merupakan wilayah NKRI. Meski pada mulanya mendapat penolakan dunia internasional, akan tetapi kemudian mendapat respons pada pengakuan internasional melalui Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut di Montego Bay Jamaica tahun 1982 atau UNCLOS 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea 1982). Pemerintah Indonesia telah meratifikasi UNCLOS 1982 dengan undang-undang nomor 17 tahun 1985 tentang pengesahan United Nations Convention of the Law of the Sea (Konvensi PBB tentang hukum laut). UNCLOS 1982 merupakan bentuk pengakuan formal dari dunia terhadap kedaulatan NKRI sebagai negara kepulauan dan mulai berlaku sebagai hukum positf sejak 16 November 1994. Artinya, butuh 37 tahun Deklarasi Djuanda diakui oleh dunia internasional. Deklarasi Djuanda menjadikan luas perairan NKRI mencapai 3.257.483 km2 (belum termasuk perairan ZEE). Panjang garis pantainya mencapai 81.497 km2, merupakan garis pantai terpanjang di dunia. Jika ditambah dengan ZEE, maka luas perairan Indonesia sekitar 7,9 juta km2 atau 81% dari luas wilayah Indonesia keseluruhan. Dengan Deklarasi Djuanda, laut kini menjadi penghubung antar-bangsa, antar-pulau yang menegaskan antara darat, laut, dasar laut, udara, dan seluruh kekayaan, semua dalam satu kesatuan wilayah Indonesia. Wilayah perairan Indonesia meliputi Wilayah Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksekutif (ZEE), dan Batas Landas, Kontinen. a.  Wilayah Laut Teritorial Wilayah laut teritorial Indonesia ditetapkan sejauh 12 mil diukur dari garis pantai terluar. Apabila laut yang lebarnya kurang dari 24 mil dikuasai oleh dua negara maka penentuan wilayah laut teritorial tiap-tiap negara dilakukan dengan cara menarik garis yang sama jauhnya dari garis pantai terluar. b.  Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Zona Ekonomi Eksklusif yaitu perairan laut yang diukur dari garis pantai terluar sejauh 200 mil ke arah laut lepas. Apabila Zona Ekonomi Eksklusif suatu negara berhimpitan dengan Zona Ekonomi Eksklusif negara lain maka penetapan melalui perundingan dua negara. Di dalam zona ini, bangsa Indonesia mempunyai hak untuk memanfaatkan dan mengolah segala sumber daya alam yang terkandung di dalam. c.  Batas Landas Kontinen Batas landas kontinen adalah garis batas yang merupakan kelanjutan dari benua yang diukur dari garis dasar laut ke arah laut lepas hingga kedalaman 200 meter di bawah permukaan air laut. Sumber daya alam yang terkandung di dalam Landas Kontinen Indonesia merupakan kekayaan Indonesia. Pemerintah Indonesia berhak untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Prinsip-prinsip dalam Deklarasi Djuanda ini kemudian dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1960, yang isinya sebagai berikut: a. Untuk kesatuan bangsa, integritas wilayah, dan kesatuan ekonominya ditarik garis-garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar dari kepulauan terluar. b. Termasuk dasar laut dan tanah bawahnya maupun ruang udara di atasnya dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. c. Jalur laut wilayah laut territorial selebar 12 mil diukur dari garis-garis lurusnya. d. Hak lintas damai kapal asing melalui perairan nusantara (archipelagic waters). Isi Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957 1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiriyang beraneka ragam 2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan Nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. 3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan:   a. Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh ;   b. Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan azas negara Kepulauan;   c. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI. Deklarasi Djuanda telah mencatatkan sejarah kegemilangan bangsa dan memberikan kemerdekaan Indonesia seutuhnya secara kewilayahan dan menjadikannya sebuah kesatuan dalam bingkai wawasan Nusantara. Namun demikian, kemerdekaan ini tidaklah mudah dalam  menjaga dan mengelolah, penambahan luas wilayah sedemikian besar ini tentu juga miliki tantangan dan ancaman, sehingga dibutuhkan sebuah strategi dan perencanaan yang tepat dan cerdas sehingga Indonesia bisa kembali menjadi bangsa maritime yang berdaulat. Perkiraan ancaman dan gangguan lainnya yang mungkin dihadapi Indonesia ke depan, antara lain kejahatan lintas negara seperti, penyeludupan, pelanggaran ikan ilegal, pencemaran dan perusakan ekosistem, imigrasi gelap, pembajakan/perampokan, aksi radikalisme, konflik komunal dan dampak bencana alam. Berdasarkan problematika tersebut, perlu dirumuskan kebijakan kebijakan strategi pengamanan wilayah nasional, bertujuan merumuskan kebijakan strategi pengamanan wilayah nasional, terutama laut, sebagai negara kepulauan maritim yang mempunyai posisi geostrategis sangat unggul. Sasaran yang ingin dicapai dari perumusan kebijakan ini adalah tersusunnya kebijakan strategi pengamanan wilayah nasional, yang dapat dijadikan masukan dalam perumusan maritime policy secara keseluruhan. Sebagai gambaran ada enam elemen penting dalam membangun kekuatan maritim, yaitu Geographical Position, Physical Confirmation, Extent of Territory, Number of Population, Character of the People, dan Character of Government. Elemen-elemen sebagai unsur budaya merupakan modal utama dalam membangun negara maritim. Banyak bangsa besar berkat kekuatan maritimnya. Inggris , Jepang , China, Australia, Singapur, Belanda, New York dan India sebagai negara-negara besar dan maju dengan kekuatan maritim, laut diubah menjadi unggulan yang membanggakan. Demikian dengan kota-kota besar di Indonesia, mulai dari laut Jakarta, Surabaya, Makassar dan lainnya memiliki potensi unggulan yang lebih dari negara lain telebih Indonesia sebagai paru-paru dunia, demikian mencerminkan laut sebagai  maritim yang besar dan kalamana di kelola dengan tepat, benar dan cerdas maka bangsa Indonesiadikenal sebagai negara kepulauan yang besar dan makmur untuk semua golongan masyarakat Indonesia.(js)

Jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya
Ekosistem Pesisir
15 Des 2015

Ekosistem Pesisir

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari dua pulau besar yakni pulau Bangka dengan luas daratan 11.484 Km2 dan pulau Belitung luas daratan 4.800 Km2,, dengan luas total daratan 16281.Km2.Sebagai wilayah maritim dengan memiliki luas wilayah laut 80%, panjang garis pantai 1200 kilometer, jumlah pulau 950, luas lahan mangrove 80336.69 Ha, luas padang lamun 3.641,08 Ha, luas terumbu karang 82.259,84 Ha, jumlah PPNS 17 orang, Jumlah POKMASWAS 34 kelompok, jumlah kapal pengawas 10 unit, jumlah SPDN 16 unit, Kuota BBM Nelayan 27.700 KL, jumlah pembudidaya ikan 3.951 orang, luas areal budidaya 364,23 Ha, memiliki potensi yang besar kalamana di maksimalkan dan di kelola secara tepat guna dan bijak. Berdasarkan ketentuan Pasal 3 UU No. 6/1996 tentang Perairan Indonesia, wilayah perairan Indonesia meliputi : Laut territorial Indonesia adalah jalur laut selebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia, Perairan Kepulauan, adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman dan jarak dari pantai, Perairan Pedalaman adalah semua peraiaran yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia, termasuk didalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat pada suatu garis penutup . Wilayah laut dan pesisir beserta sumberdaya alam memiliki makna strategis bagi pengembangan ekonomi Indonesia sebab dapat diandalkan sebagai  pilar ekonomi nasional. Disamping itu, fakta yang telah dikemukakan beberapa ahli dalam berbagai kesempatan, juga mengindikasikan hal yang serupa. Fakta tersebut antara lain adalah : Secara sosial, wilayah pesisir Babel dihuni tidak kurang dari 40.000 jiwa atau 3,25% dari penduduk Babel. Dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi di masa yang akan datang. Secara administratif kurang lebih 40 Daerah kecamatan yang berada di pesisir, dimana dengan adanya otonomi daerah masing-masing daerah otonomi tersebut memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengolahan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Secara fisik, terdapat pusat-pusat pelayanan sosial-ekonomi yang tersebar mulai dari pulau Bangka dan Pulau Belitung, dimana didalamnya terkandung berbagai asset sosial (Social Overhead Capital) dan ekonomi yang memiliki nilai ekonomi dan financial yang sangat besar. Secara ekonomi, hasil sumberdaya pesisir telah memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Babel sebesar 65 Juta USD (Hasil Exspor) pada tahun 2014. Selain itu, pada wilayah ini juga terdapat berbagai sumber daya masa depan (future resources) dengan memperhatikan berbagai potensinya yang pada saat ini belum dikembangkan secara optimal, antara lain potensi perikanan yang saat ini baru sekitar 48% dari potensi lestarinya yang termanfaatkan. Wilyah pesisir di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi produsen (exporter) sekaligus sebagi simpul transportasi laut di Wilayah Asia Pasifik. Hal ini menggambarkan peluang untuk meningkatkan pemasaran produk-produk sektor industri Indonesia yang tumbuh cepat (4%-9%) Selanjutnya, wilayah pesisir juga kaya akan beberapa sumber daya pesisir dan lauatan yang potensial dikembangkan lebih lanjut meliputi  (a) perikanan dengan potensi 499.500  ton/tahun yang tersebar pada hampir semua titik penangkapan ikan di Babel, (b) pariwisata bahari yang diakui duniadengan keberadaan spot potensial, dan (c) keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (natural biodiversity) sebagai daya tarik bagi pengembangan kegiatan “ecotaurism”. Secara biofisik, wilayah pesisir di Babel merupakan pusat biodiversity laut tripis  kerena luas hutan bakau dan terumbu karang dan lamun masih tergolong terawat baik meskipun terdapat kerusakan pada beberapa lokasi. Secara politik dan hankam, wilayah pesisir merupakan kawasan perbatasan antar provinsi maupun antar daerah dan laut yang sensitive dan memiliki implikasi terhadap pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karakteristik dari ekosistem pesisir adalah mempunyai beberapa jumlah ekosistem yang berada di daerah pesisir. Contoh ekosistem lain yang ikut kedalam wilayah ekosistem pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun ( seagrass ), dan ekosistem terumbu karang. Dari ekosistem pesisir ini, setiap ekosistem mempunyai sifatdan karakteristik yang berbeda . Berikut merupakan penjelasan dari ekosistem pesisir dan faktor pendukungnya : 1.Pasang Surut Daerah yang terkena pasang surut itu brmacam – macam antara lain gisik, rataan pasang surut. Lumpur pasang surut, rawa payau, delta, rawa mangrove, dan padang rumput (sea grass beds). Rataan pasut adalah suatu mintakat pesisir yang pembentukannya beraneka, tetapi umumnya halus, pada rataan pasut umumnya terdapat pola sungai yang saling berhubungan dan sungai utamanya halus, dan masih labil. Artinya Lumpur tersebut dapat cepat berubah apabila terkena arus pasang. Pada umumnya rataan pasut telah bervegetasi tetapi belum terlalu rapat, sedangkan lumpur pasut belum bervegetasi. 2.Estuaria Eustaria adalah muara pasang surut dari sungai yang besar. Batasan yang umum digunakan saat sekarang, eustaria adalah suatu tubuh perairan pantai yang semi tertutup, yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dan didalamnya air laut terencerkan oleh air tawar yang berasal dari drainase daratan. Eustaria biasanya sebagai pusat permukiman berbagai kehidupan. Fungsi dari eustaria cukup banyak antara lain : merupakan daerah mencari ikan, tempat pembuangan limbah, jalur transportasi, sumber keperluan air untuk berbagai industri dan tempat rekreasi. 3.Hutan Mangrove Hutan mangrove dapat ditemukan pada daerah yang berlumpur seperti pada rataan pusat, Lumpur pasut dan eustaria, pada mintakat litoral. Agihannya terutama di daerah tropis dan subtropis, hutan mangrove kaya tumbuhan yang hidup bermacam – macam, terdiri dari pohon dan semak yang dapat mencapai ketinggian 30 m. Species mangrove di wilayah Babel  RHIZOPHORA Mucronata menjadi jenis spesies mangrove yang mendominasi di pulau Belitung. Jenis ini banyak tumbuh di atas tanah lumpur. Selain mucronata, jenis lain yakni Rhizophora Apiculata juga banyak terdapat di Belitung.. Fungsi dari mangrove antara lain sebagai perangkap sedimen dan mengurangi abrasi. 4.Padang Lamun (Sea Grass Beds) Padang lamun cukup baik pada perairan dangkal atau eustaria apabila sinar matahari cukup banyak. Habitanya berada terutama pada laut dangkal. Pertumbuhannya cepat kurang lebih 1.300 – 3.000 gr berat kering/m2/th. Padang lamun ini mempunya habitat dimana tempatnya bersuhu tropis atau subtropics. Ciri binatang yang hidup di padang lamun antara lain: a.  Yang hidup di daun lamun b.  Yang makan akar canopy daun c.  Yang bergerak di bawah canopy daun d.  Yang berlindung di daerah padang lamun     5. Terumbu Karang Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan tingkat keanekaragaman tinggi dimana di Wilayah Babel yang mempunyai 10 jenis terumbu karang , dengan keanekaragaman hayati tertinggi lebih dari 2500 jenis ikan, jenis Moluska,  jenis udang-udangan yang merupakan ekosistem yang sangat kompleks. Dapat hidup pada kedalaman hingga 50 meter, memerlukan intensitas cahaya yang baik untuk dapat melakukan proses fotosintesis, salinitas 30-35ppt merupakan syarat batas untuk terumbu karang dapat hidup disuatu perairan. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal banyak biota, letaknya yang berada diujung/bibir pantai juga bermanfaat sebagai pemecah gelombang alami. Keindahannya dengan warna-warni ikan dan karang membuat terumbu karang dapat menjadi obyek wisata air, baik snorkeling ataupun selam. Pengelolaan Wilayah Pesisir Menurut Sain dan Krecth Pengelolaan Pesisir Terpadu (P2T) adalah proses yang dinamis yang berjalan secara terus menerus, dalam membuat keputusan-keputusan tentang pemanfaatan, pembangunan dan perlindungan wilayah dan sumberdaya pesisir dan lautan. Bagian penting dalam pengelolaan terpadu adalah perancangan proses kelembagaan untuk mencapai harmonisasi dalam cara yang dapat diterima secara politis. Suatu kegiatan dikatakan keberlanjutan, apabila kegiatan pembangunan secara ekonomis, ekologis dan sosial politik bersifat berkelanjutan. Berkelanjutan secara ekonomi berarti bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan capital (capital maintenance), dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien. Berkelanjutan secara ekologis mengandung arti, bahwa kegiatan dimaksud harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan, dan konservasi sumber daya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity), sehingga diharapkan pemanfaatan sumberdaya dapat berkelanjutan. Sementara itu, berkelanjutan secara sosial politik mensyaratkan bahwa suatu kegiatan pembangunan hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat (dekratisasi), identitas sosial, dan pengembangan kelembagaan . Darah pesisir di Indonesia sebenarnya telah mendapat persetujuan dalam mengatur, mengelola, atau memberdayakan daerahnya masing masing, seperti dibahas pada Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah memberikan kewenangan yang luas kepada Daerah Kabupaten dan Kota untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan kewenangan daerah di wilayah laut adalah : Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut Pengaturan kepentingan administratif Pengaturan ruang Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah Bantuan penegakan keamanandan kedaulatan Negara. Pemanfaatan dan Pengelolaan Potensi Pesisir Daerah di Babel Berdasarkan pengalaman yang sudah berjalan sampai sekarang, daerah pesisir di Babel yang kebanyakan ditinggali oleh para nelayan, merupakan daerah yang belum sepenuhnya digali potensinya, hal ini berkaitan dengan nelayan itu sendiri sekedar memanfaatkan hasil dari laut berupa ikan, rumput laut, terumbu karang, lamun, dan sebagainya hanya untuk memenuhi kebutuhan harian mereka tanpa merelokasi dengan baik dan tepat guna. Sehingga secara garis besar, potensi pesisir yang diberdayakan oleh para masyarakat sekitar hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan harian untuk hidup mereka. Sedangkan pemanfaatan potensi daerah pesisir secara besar-besaran untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis dalam rangka peningkatan pertumbuhan perekonomian rakyat belum banyak dilakukan. Pemanfaatan pesisir untuk usaha ekonomi dalam skala besar baru dilakukan pada sebagian Kabupaten dan Kota yang berada di daerah pesisir. Pada umumnya usaha ekonomi pemanfaatan daerah pesisir ini bergerak disektor pariwisata dan sudah mempunyai kesadaran yang lebih dibandingkan dengan daerah lain yang belum mempunyai pengolahan seperti ini. Mengingat kewenangan daerah untuk melakukan pengelolaan bidang kelautan yang termasuk juga daerah pesisir masih merupakan kewenangan baru bagi daerah maka pemanfaatan potensi daerah pesisir ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten atau kota yang berada di pesisir. Jadi belum semua Kabupaten dan Kota yang memanfaatkan potensi daerah pesisir. Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Babel  sebagian belum memenuhi ketentuan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan. Hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi dan kelestarian pesisir dan lingkungannya. Penyebab degradasi kondisi daerah pesisir secara tidak langsung juga disebabkan oleh pengelolaan sumber daya alam di hulu yang berpengaruh terhadap muara di pesisir. Kebijakan reklamasi yang tidak berdasarkan kepada analisa dampak lingkungan pada beberapa daerah juga berpengaruh terhadap ekosistem dipesisir. Perizinan pengembangan usaha bagi kelangan dunia usaha selama ini sebagian besar menjadi kewenangan pusat. Kadangkala dalam hal ini pemberian izin tersebut tanpa memperhatikan kepentingan daerah dan masyarakat setempat. Jika kita perhatikan berbagai permasalahan yang timbul dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : Pemanfaatan dan pengelolaan daerah belum diatur dengan peraturan perundang-ungan yang jelas, seingga daerah mengalami kesulitan dalam menetapkan sesuatu kebijakan. Pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir cendrung bersifat sektoral, sehingga kadangkala melahirkan kebijakan yang tumpang tindih satu sama lain. Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir belum memperhatikan konsep daerah pesisir sebagai suatu kesatuan ekosistem yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif pemerintahan, sehingga hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar daerah. Kewenangan daerah dalam rangka otonomi daerah belum dipahami secara komprehensif oleh para stakeholders, sehingga pada setiap daerah dan setiap sector timbul berbagai pemahaman dan penafsiran yang berbeda dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir. Dalam upaya menjaga dan merawat kelestarian ekosistem pesisir, bukan hanya warga masyarakat pesisir saja yang hanya merawat dan melestarikan ekosistem pesisir. Melainkan hal ini membutuhkan banyak sokongan dan upaya dari pemerintah serta semua elemen masyarakat. Hal ini bisa dilakukana dengan menggunakan beberapa tahapan baik secara strukturak maupun non-struktural. Tetapi pada hal ini, sepertinya pendekatan dengan cara non-struktural atau lebih dikatakan dengan pendekatan subyektif. Pendekatan ini adalah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai subyek yang mempunyai keleluasaan untuk berinisiatif dan berbuat menurut kehendaknya. Pendekatan tersebut berasumsi bahwa masyarakat lokal dengan pengetahuan, keterampilan dan kesadarannya dapat meningkatkan peranannya dalam perlindungan sumber daya alam sekitarnya. Karena itu, salah satu upaya untuk meningkatkan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam dan wilayah pesisir dan laut adalah dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat untuk ebrbuat sesuatu demi melindungi sumber daya alam. Pengetahuan dan keterampilan tersebut tidak harus berkaitan langsung dengan upaya-upaya penanggulangan masalah kerusakan sumber daya alam tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan usaha ekonomi, terutama dalam rangka membekali masyarakat dengan usaha ekonomi alternative sehingga tidak merusak lingkungan, antara lain yaitu : Peningkatan pengetahuan dan wawasan lingkungan Pengembangan keterampilan masyarakat Pengembangan kapasitas masyarakat Pengembangan kualitas diri Peningkatan motivasi masyarakat untuk berperan serta Penggalian dan pengembangan nilai tradisional masyarakat Oleh karena itu, pelestarian ekosistem pesisir bukan hanya tugas dan keawajiban dari masyarakat wilayah pesisir, melainkan semua aspek masyarakat yang ada. Masyarakat umum harus mulai disadarakana bagaimana pentingnya ekosistem pesisir bagi keberlanjutan kehidupan bagi umat manusia. Meskipun, untuk kejadian proses alam lingkungan sekitar dan interaksi antara faktor abiotik dan biotik serta perubahan ekologis hanya bisa di pahami oleh ilmuwan dan pakar lingkungan, basis data yang didapat dari mereka bisa digunakan untuk sumber informasi untuk disebarkan lebih luas agar semua masyarakat dapat ikut melestarikan dan menjaga ekosistem pesisir sehingga proses pengelolaan ekosistem pesisir bisa berjalan tidak hanya untuk jangka pendek, melainkan bisa hingga jangka panjang. Banyak elemen masyarakat yang sekarang masih kurang peka akan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya ekosistem pesisir, hal ini apabila tidak di tanggapi secara serius akan menimbulkan dampak yang cukup berbahaya ke depannya. Kita tidak mungkin juga hanya bisa menikmati keindahan suatu tempat tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya bagi generasi penerus. Berikut merupakan tahapan yang dapat digunakan untuk perlindungan maupun pelestarian ekosistem pesisir, diantaranya adalah : Restorasi, dimaksudkan sebagai upaya untuk menata kembali kawasan pesisir  sekaligus melakukan aktivitas penghijuan. Untuk melakukan restorasi perlu memperhatikan pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe tanah. Reorientasi, dimaksudkan sebagai sebuah perencanaan pembangunan yang berparadigma berkelanjutan sekaligus berwawasan lingkungan. Sehingga motif ekonomi yang cenderung merusak akan mampu diminimalisasi Responsivitas, dimaksudkan sebagai sebuah upaya dari pemerintah yang peka dan tanggap terhadap problematika kerusakan ekosistem pesisir. Hal ini dapat ditempuh melalui gerakan kesadaran pendidikan dini, maupun advokasi dan riset dengan berbagai lintas disiplin keilmuan\ Rehabilitasi, gerakan rehabilitasi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengembalikan peran ekosistem pesisir sebagai penyangga kehidupan biota laut. Salah satu wujud kongkrit pelaksanaan rehabilitasi yaitu dengan menjadikan kawasan pesisir sebagai area konservasi yang berbasis pada pendidikan (riset) dan ekowisata Responsibility, dimaksudkan sebagai upaya untuk menggalang kesadaran bersama sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat. Regulasi, dalam hal ini setiap daerah pasti mempunyai Perda yang telah diatur secara jelas dan gambling. Maka dari itu, perlu kesadaran dan kewajiban untuk memenuhi perda yang telah ada dan telah dibuat. Ini bisa dijadikan sebuah punishment apabila tidak dijalankan secara serius. Punishment harus dijalankan guna membentuk sikap yang sadar akan Perda yang telah diatur demi keberlangsungan ekosistem pesisir di masa depan. (js)

Jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya
Marine, Fishery and Invesment
17 Sep 2015

Marine, Fishery and Invesment

Keterbatasan informasi mengenai ragam potensi serta produk unggulan yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia secara faktual menjadikan potensi dan produk unggulan Indonesia kurang dikenal di pasar internasional. Padahal, terdapat beberapa produk unggulan milik bangsa ini bisa diterima oleh masyarakat dunia ketika sudah masuk pasar internasional. Oleh karena itu, diperlukan sarana pendukung berupa pameran sebagai ajang promosi untuk memperkenalkan produk unggulan. Pameran yang diselenggarakan berkaitan dengan upaya untuk lebih mempromosikan peluang investasi serta perluasan pasar bagi produk unggulan yang dimiliki oleh pemerintah daerah (provinsi, kabupaten dan kota), perusahaan swasta dan BUMN/BUMD di Indonesia. Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi kepulauan di Indonesia mempunyai beberapa produk unggulan yang memerlukan media promosi untuk diperkenalkan ke masyarakat luas agar mempunyai banyak peluang bisnis dan investasi yang besar dan strategis. Pelaksanaan pameran didukung dengan beberapa rangkaian kegiatan yang memberi peluang sangat besar kepada peserta pameran untuk berinteraksi sekaligus menjual protensi investasi dan produk unggulan daerah kepada calon investor dan potensial buyers nasional maupun internasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan memiliki Luas total 18.725.14 km2(4,229.82mil2), daratan 16.424.14 km2 (6,341.40 mil²) , perairan 65.301 km2 (25,213 mil²)  79,99%, panjang pantai 1.200 km  dengan letak koordinat 1º 50' -3º10'LS ,105º - 108º BT. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan dengan  luas wilayah yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan  melimpah,  terlihat dari jumlah produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Jumlah produksi perikanan tangkap Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2013 sebesar 199.423,880 ton/tahun dan jumlah produksi perikanan budidaya tahun 2013  sebesar 2.939,08 ton/tahun dengan nilai produksi Rp.80.422,364.000,-     Pembangunan sektor perikanan merupakan prioritas  Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap income daerah, penyerapan tenaga kerja dan pembangunan daerah secara berkelanjutan dengan demikian  sektor unggulan yang diperkenalkan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke masyarakat luas dapat mencapai hasil maksimal. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai peluang yang sangat besar untuk memanfaatkan sumber daya perikanan yang dimiliki, baik perikanan laut maupun perikanan darat, karena sebagian besar wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah perairan.  Tidaklah mengherankan jika saat ini potensi bidang kelautan dan perikanan lebih  diharapkan untuk dapat berperan besar dalam pembangunan perekonomian. Potensi kelautan dan perikanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari potensi perikanan tangkap, potensi perikanan budidaya, dan potensi bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang terbagi menjadi industri rumah tangga, industri kecil dan industri skala besar. Mengingat potensi hasil kelautan di Bangka Belitung berlimpah dan tentunya diikuti pula dengan produk olahan  hasil perikanan yang sangat beraneka ragam di wilayah provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maka perlu diikutsertakan dalam suatu pameran bertaraf  nasional seperti Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014. Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 dilaksanakan tanggal 02-05 Mei 2014  di Mega Mall Batam, kepulauan Riau.  Sebagai pameran hasil produk olahan hasil perikanan yang  menampilkan berbagai macam produk, jasa, dan teknologi di bidang kelautan dan perikanan.  Pameran ini diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan PT. Fery Agung Corindotama (FERACO),  didukung oleh Kementerian Kelautan Perikanan RI, Kementerian  Perdagangan RI, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kota Batam, Mega Mall Batam Center, Majalah Istana dan Tabloid Mitra Tani.. Peserta Indonesian Investment Marine And Fisheries  Expo  2014 diikuti oleh 33 anjungan stan dari semua dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi serta 16 anjungan stan dari  kabupaten / kota seluruh Indonesia, industri pengolahan di bidang kelautan dan perikanan yang dihadiri oleh para investor, supplier, buyer, dan akademisi dari dalam dan  luar negeri, mahasiswa, dan juga masyarakat luas yang cukup antusias selama dalam mengikuti  pelaksanaan Kegiatan Indonesian Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 . Terdapat beberapa alasan dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti kegiatan Indonesian Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 antara lain ; memiliki unsur demonstratif yang tinggi, sehingga informasi tentang potensi produk kelautan dan perikanan daerah/produk perusahaan perusahaan suatu  derah  dapat ditampilkan dan dipresentasikan secara detail kepada calon investor dan buyers. Pameran sebagai wadah, tempat terjadi kontak langsung antara peserta pameran dengan  investor sehingga dimungkinkan terjadi kesepakatan kerjasama bisnis mutualisma. Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 resmi dibuka pada hari Jumat(02/05) oleh Menteri kelautan dan Perikanan RI yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (Dirjen. P2HP KKP. RI) Saut P Hutagalung sekaligus memberikan arahan. Adapun target pengunjung pada pameran ini adalah pelaku usaha, investor,  dan masyarakat umum  karena pameran merupakan salah satu cara untuk menyampaikan  promosi dalam  menampilkan kekayaan, keragaman dan  potensi daerah dalam hal produk olahan hasil perikanan yang menjadi unggulan di sektor perikanan khususnya serta sebagai  wahana pertemuan antara produsen dan pembeli yang berpotensi beserta calon investor.  Selama pelaksanaan pameran  diharapkan terjadi suatu kesepakatan ataupun kontrak di bidang ekonomi dan bisnis yang  saling menguntungkan untuk semua pihak. Realisasi pelaksanaan kegiatan pameran diharapkan mampu memperkenalkan macam-macam produk olahan hasil perikanan  yang merupakan unggulan daerah provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke masyarakat luas hingga seluruh Indonesia dan mancanegara. Dengan lebih dikenal potensi kelautan dan perikanan di Bangka Belitung, diharapkan tercipta akses dan jaringan untuk memajukan perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan lebih terbuka dan lebih cepat sehingga pada gilirannya  diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat terwujud. Menurut Frank Jefkins (1999:86), pameran adalah salah satu media komunikasi yang mampu membuat publik mengenal produk jasa, mengerti, dan mampu mengingatnya. Untuk itu, diharapkan acara yang diselenggarakan melalui pameran akan berhasil menarik masyarakat, apalagi diikuti oleh program lainnya yang diadakan oleh Humas karena keterkaitan yang sangat erat antara kegiatan Humas dalam eksibisi yang sangat menunjang untuk promosi. Untuk mencapai tujuan, tugas, dan kegiatan PR (publik relations) sangat dibutuhkan media PR, seperti iklan, pameran, media internal, dan fotografi. Salah satu media PR  adalah pameran. Pameran yang diadakan  bernama Pameran Indonesian Marine And Fisheries  Investment  Expo 02-05 Mei 2014 di Mega Mall Batam yang diadakan setiap tahun sehingga DKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa semakin dikenal masyarakat sekaligus mengangkat reputasi instansi pemerindah daerah. Pameran Pameran secara komunikologis yaitu dapat menyebarkan suatu pesan yang bersifat informatif, persuasif; dan sebagai sarana komunikasi yang membuat publik tetap menjadi ingat dan mengerti tentang apa yang ingin ditampilkan pada suatu pameran tersebut. Menurut Jack Dove, pakar audio visual aids (AVA) mengatakan : “Knowledge is absorted through the five senses assessed in the following proportions” (Ruslan,1998:218). Pengetahuan dapat diserap melalui panca indera manusia, yaitu penilaian menurut urutan proporsi indera sebagai berikut : (1) Menggunakan mata (sight) 70%, (2) Pendengaran (hearing) 13%, (3) Sentuhan (touch) 6%, (4) Penciuman (smell) 3%, (5) Cita rasa (taste) 3%. Artinya hampir semua atau 90% pengetahuan dapat diserap melalui panca indera manusia ketika yang bersangkutan hadir, menyaksikan dan memperhatikan pada saat pameran berlangsung. Yang dimaksud dengan pameran adalah kegiatan yang menunjukkan sesuatu kepada orang banyak mengenai kelebihan dan keunggulan yang dimiliki sesuatu tersebut. Secara umum, sebenarnya pameran merupakan suatu media promosi dan iklan yang bertujuan memperkenalkan suatu produk atau jasa kepada masyarakat dengan harapan mereka tertarik dan kemudian membelinya. Pengunjung adalah orang yang berkunjung kepada seseorang atau ke suatu tempat seperti pameran atau pasar malam (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Dengan adanya pengunjung yang menghampiri pameran yang telah dibuat, itu artinya ada sesuatu yang membuat pengunjung tertarik untuk hadir pada pameran itu. Efektifnya pameran adalah pada sarana komunikasi itu. Pengunjung atau publik dapat menyaksikan peragaan proses produksi barang atau benda tertentu. Mereka juga dapat bertanya sepuas hati bahkan mungkin mencobanya. Karena efektifnya pameran itulah maka banyak perusahaan yang secara periodik menyelenggarakan pameran dalam rangka mempromosikan jasa/produknya. Berdasarkan hal di atas bahwa pameran merupakan program/kegiatan memperkenalkan produk ataupun jasa instansi kepada pengunjung atau masyarakat, sehingga pameran ini dapat dijadikan ajang promosi produk dan jasa suatu perusahaan. Untuk memamerkan produk dan jasa , biasanya pameran dilakukan dengan cara menyewa stand atau tempat dan dihias semenarik mungkin agar pengunjung yang datang ingin melihat lebih dekat produk atau jasa perusahaan dengan harapan agar para pengunjung lebih mengenal dan kemudian ingin mencoba bahkan sampai menggunakan produk atau jasa perusahaan. Pameran yang baik atau dikatakan efektif dilihat dari efektivitas atau tingkat keberhasilan dari pameran tersebut sesuai dengan target yang diinginkan. Efektivitas pameran juga harus dilihat dari promosi yang dilakukan oleh instansi. Berhubungan dengan pameran yang bersifat komunikatif pula, dalam konteks ilmu komunikasi harus ada saluran komunikasi atau media komunikasi. Media ini digunakan agar instansi DKP provinsi Kepulaun Bangka Belitung semakin dikenal masyarakat karena para konsumen mendapatkan informasi terpercaya melalui media yang menjadi konsumsi umum.  Pameran Sebagai Salah Satu Medium PR Sebagai salah satu medium PR, pameran sangat berperan penting untuk pengenalan perusahaan sekaligus mengangkat reputasi perusahaan, seperti yang diadakan DKP Prov.Kep.Babel setiap tahunnya yang bernama Pameran Indonesian Marine And Fisheries  Investment  Expo . Pada saat pameran, instansi DKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat menyajikan produkk dari binaan Poklahsar (kelompok Pengolah dan Pemasaran) sehingga pengunjung yang belum mengenal atau masih belum cukup akrab dengan DKP provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat semakin mengenal dengan mengunjungi pameran dan mendapatkan informasi Pameran sebagai media yang dapat merangsang terjadinya penawaran dan penjualan secara langsung oleh para pengunjung stand yang bersangkutan karena memiliki ciri mudah menarik perhatian dan kelebihan utama yang ada pada pameran adalah kemampuannya membangkitkan dan mengalihkan perhatian khalayak/konsumen kepada produk yang dipamerkan sehingga menarik minat banyak orang. Berdasarkan hal atas, efektifitas membuat sesuatu menjadi berhasil adalah  penilaian . Efektif (berhasil) atau tidak efektif (tidak berhasil) nya sebuah pameran sangat ditentukan oleh penyajian dari pameran itu sendiri dan bagaimana pameran ini disajikan dalam bentuk komunikasi sehingga pengunjung merasa perlu untuk menyaksikan pameran tersebut. Pameran Indonesian Marine And Fisheries  Investment  Expo  ini akan dikatakan berhasil (efektif) apabila timbul kepercayaan dari masyarakat untuk menggunakan/membeli jasa atau produk setelah diadakannya pameran. Efektivitas Pameran Dalam Penyebaran Informasi Efektivitas Pameran Indonesian Marine And Fisheries  Investment  Expo   dalam penyebaran informasi menggambarkan berhasil atau tidak berhasil diadakannya pameran bahari untuk memberikan informasi kepada masyarakat sekaligus sebagai ajang promosi/publikasi perusahaan dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang belum mengenal DKP Prov.Kep.Babel sebagai salah satu perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan. Diharapkan dengan berhasilnya pameran Industri Bahari, pengunjung serta masayarakat dapat mengenal DKP Prov.Kep.Babel, mendapatkan informasi yang jelas tentang instansi, dan mengangkat reputasi instansi pemerintah sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat. Berdasarkan tentang pameran yang telah dilaksanakan, di situ dikatakan pameran merupakan sarana promosi produk dan jasa yang efektif. Pameran mampu merangsang tumbuhnya penyelenggaraan kegiatan bernuansa promosi (Evelina,2005:8-9). Beberapa alasan dikatakan bahwa pameran adalah sarana yang efektif, yaitu :semakin sering frekuensi mengadakan pameran, akan semakin diketahui banyak orang, sehingga kedudukannya menjadi kuat dan positioning (penempatan) produk maupun jasa yang dipamerkan semakin mantap. Aktivitas pameran dimaksudkan agar brand produk yang ditawarkan itu dilihat dan dirasakan. Memberikan informasi sejelas-jelasnya secara langsung kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada pengunjung harus jelas sehingga pengunjung dapat menyaksikan peragaan proses produksi barang atau jasa yang dipamerkan. Dengan diadakannya pameran akan membentuk opini publik yang baik terhadap produk ataupun jasa dari hasil binaan instansi DKP Prov.Kep.Babel, Artinya produk atau jasa yang ditawarkan merupakan sesuatu yang baik dan berguna bagi masyarakat. Mengangkat reputasi produk. Produk yang ditawarkan memberikan kesan produk memiliki nilai tersendiri dan berkualitas. Secara tidak langsung, ini akan mengangkat reputasi produk dari instansi. Sekaligus memperbaiki reputasi DKP Prov.Kep.Bangka Belitung.  Mengetahui minat masyarakat secara langsung , Pada saat pameran, produk atau jasa yang dipamerkan diberi sampel dari produk baru binaan dari DKP prov.Kep.Babel supaya dapat diperoleh persentase dari jumlah pengunjung pameran yang menggemari atau menyukai produk baru tersebut.  Meraih calon pelanggan dan membuka bisnis baru Pameran juga efektif untuk meraih banyak calon pelanggan dan membuka jaringan bisnis baru dan hubungan bisnis yang berharga. Besar kemungkinan dari jumlah pengunjung yang datang merupakan prospek pelanggan atau orang yang berminat menjadi rekanan dari DKP Prov.Kep.Babel yang turut serta pada pameran.   Ikut pameran kita dapat berinteraksi langsung Komunikasi timbal balik antarpeserta dengan pengunjung pameran dapat dibangun lewat pameran, sehingga menghasilkan sesuatu yang saling menguntungkan. Misalnya, masyarakat dapat turut serta berperan dalam menyempurnakan suatu produk dengan saran maupun usulan yang bersifat membangun terhadap suatu produk atau jasa.  Promosi perusahaan Pameran sebagai salah satu alternatif promosi perusahaan/instansi untuk memperkuat brand atau membantu penjualan (selling out) produk atau jasa. Sebagai salah satu wujud nyata guna mempromosikan potensi, peluang investasi dan produk-produk unggulan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia secara terpadu dan berkesinambungan, pelaksana Pemeran ini memiliki nilai strategis dalam menghadapi ketatnya persaingan di era globalisasi saat ini. Sebagai salah satu Negara produsen perikanan terbesar di dunia, Indonesia diuntungkan dari melimpahnya potensi sumber daya yang tersedia.  Potensi ini tentu merupakan peluang juga sekaligus tantangan untuk di kembangkan lebih lanjut sebagai tulang punggung perokonomian nasional. Pameran ini memiliki arti strategis dalam memberi nilai tambah terhadap hasil kelautan dan perikanan Indonesia. Melalui agenda tahunan ini diharapkan dapat mendorong upaya pengembangan potensi kelautan dan perikanan di wilayah Indonesia Pameran Indonesia Marine & Fisheries Investment Expo 2014 dilaksanakan pada tanggal 2 – 5 Mei, Mega Mall Batam Center. Pada acara pameran ini Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau sebagai salah satu peserta yang menampilkan materi olahan perikanan berupa olahan perikanan barupa kerupuk ikan, kerupuk gonggong, kerupuk udang, kerupuk sotong dan kerupuk atom ikan tengiri. Acara pameran tersebut di ikuti oleh seluruh Indonesia yg di ikuti oleh : Provinsi Aceh, Provinsi Bali, Provinsi Banten, Provinsi Bengkulu, Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Gorontalo, Provinsi Jambi, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Lampung, Provinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, Provinsi Sumatra Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Banggai, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Kampar, Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Kuatai Timur, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Selayar, Kabupaten Serang, Kabupaten Siduarjo, Kabupaten Suka Bumi, Kabupaten Tanah Bumbu, Kota Jakarta Utara, Kota Semarang, BP Kapet Batu Licin, Kementrian Kelautan dan Perikanan Pameran ini di menangkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau dengan mendapat juara I sebagai Stand terbaik. Sedangkan Juara II di menangkan oleh peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimatin Timur dan juara III berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Banten Dengan harapan Pameran Indonesia Investment Marine & Fisheries Expo 2014 ini memberi manfaat yang besar bagi para pelaku usaha dan semua pihak yang terlibat khususnya dalam upaya promosi potensi produk kelautan dan perikanan yang pada giliranya akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan di Indonesia   Manfaat dan Tujuan Sebagai media promosi untuk memperkenalkan potensi dan produk unggulan daerah serta peluang investasi sehingga dapat terjadinya iklim investasi yang kondusif yang akan menggiring calon investor untuk mau menanamkan modal di Indonesia. Sebagai wahana interaksi bisnis sehingga dapat menghasilkan multiplier efek yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi. Diharapkan Indonesiaan Investment Marine And Fisheries Expo 2014 di Batam  dapat tersosialisasikan bahwa Indonesia memiliki peluang investasi dan peluang bisnis yang menjanjikan dimasa depan, dan merupakan tempat yang aman berinvestasi. Meningkatkan peluang investasi bagi potensi daerah dapat memperlihatkan eksistensi di era otonomi global daerah, meningkatkan ekspor komoditi, menyebarluaskan informasi melalui teknologi sehingga dapat mendukung promosi produk unggulan daerah, membuka jaringan pemasaran baik lokal maupun internasional.  Indonesiaan Investment Marine And Fisheries Expo 2014 yang diikuti oleh 33 anjungan stan dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi serta 16 anjungan stan dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten / Kota seluruh Indonesia.  Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini  sebagai berikut : Pemerintah Provinsi/Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Mempromosikan kebijakan dan peluang investasi di bidang kelautan dan perikanan; Memfasilitasi branding produk dan jasa unggulan daerah di bidang kelautan dan perikanan; Mengembangkan kerjasama dalam bidang kelautan dan perikanan dengan berbagai pihak. Industriawan/Pengusaha Mempromosikan produk, jasa, dan teknologi kepada masyarakat luas; Mendorong brand image produk dan jasa yang ditawarkan; Mendorong penjualan produk kepada masyarakat luas secara langsung; Mengembangkan kerjasama dan jaringan bisnis dengan pihak terkait baik pemerintah maupun industri terkait; Mengembangkan market intelligence.. Pelajar/mahasiswa, sebagai sarana penunjang terjadinya proses jual beli, meningkatkan kesejahteraan para peserta pameran karena produknya dapat laku terjual. Masyarakat umum, menginformasikan dan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa rumah tangga dapat sebagai pelopor home industri, memberikan sarana rekreasi dan hiburan kepada masyarakat, memperkenalkan produk unggulan kepada masyarakat. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan Pameran Indonesian Investment And Fisheries Expo  2014 yang diikuti oleh dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka  Belitung untuk mewujudkan percepatan peningkatan pendapatan pembudidaya , nelayan, pengolah dan pemasar hasil perikanan dan sasaran yang dicapai adalah meningkatkan skala dan kualitas produksi, produktivitas, daya saing dan nilai tambah sumber daya kelautan dan perikanan. Untuk  menyebarluaskan informasi tentang produk olahan hasil perikanan unggulan yang ada di provinsi kepulauan Bangka belitung kepada masyarakat luas, meningkatkan citra/ image  produk perikanan unggulan daerah di pasar dalam negeri dan memfasilitasi promosi produk Usaha Kecil dan Menengah ( UKM ) perikanan unggulan daerah pada ajang pameran berskala Nasional. Untuk mempromosikan peluang usaha dan investasi kelautan dan perikanan Indonesia dan memfasilitasi para stakeholder dan calon investor untuk melakukan interaksi bisnis dan penjajakan investasi dibidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. sekaligus memfasilitasi para pihak dan calon investor untuk melakukan transaksi bisnis dan penjajakan bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Untuk mewujudkan percepatan peningkatan pendapatan pembudidaya,nelayan, pengolah dan pemasar hasil perikanan dan sasaran yang dicapai adalah meningkatkan skala dan kualitas produksi, produktivitas, daya saing dan nilai tambah sumber daya kelautan dan perikanan. Pameran Indonesian Investment Marine And Fisheries Expo 2014 ini juga mempunyai sasaran yang jelas sama seperti pameran atau expo lainnya adalah terfasilitasinya produk unggulan hasil kelautan dan perikanan yang berpotensi yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan tersebarluaskannya informasi tentang  produk  perikanan unggulan daerah yang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung di pasar dalam negeri. Sedangkan sasaran pengunjung pameran adalah masyarakat umum dan masyarakat dunia usaha, baik skala kecil, menengah dan besar, baik lokal maupun mancanegara yang merupakan calon investor potensial. Pameran itu, sekaligus memfasilitasi para pihak dan calon investor untuk melakukan transaksi bisnis dan penjajakan bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan Pelaksanaan pameraan didukung oleh           : Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Pemerintah Kota Batam Mega Mall Batam Center Majalah Istana Tabloid Mitra Tani Dan PT. Fery Agung Corindotama (FERACO) Profil Produk Produk yang dipamerkan pada Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meliputi produk-produk sebagai berikut : Informasi terkait peluang usaha dan investasi bidang kelautan dan perikanan; Produk olahan hasil perikanan; Profil daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; Handicraft; Produk UMKM lainnya. Buku Come Explore warna Biru Buku Come Explore warna Coklat Calender Pariwisata Leaflet Manfaat ikan bagi kesehatan Compact Disc (CD) Buku Come and Explore Babel. Leaflet Babel Turis Guide. Leaflet Profil Babel Leaflet Kuliner Serba Ikan Leaflet 10 Produk olahan unggulan (2013) Leaflet Ada apa dengan ikan Leaflet Tips memilih ikan segar Leaflet Peluang usaha dan investasi (2013). Profil Peserta Pameran Peserta Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 adalah di hadiri oleh  : 33(tiga puluh tiga) anjungan pemerintah provinsi dinas kelautan dan perikanan di Indonesia. 16 (enam belas ) anjungan dinas kabupaten dan kota kelautan dan perikanan di Indonesia; Perusahaan pengolahan hasil sumber daya laut; Perusahaan produk mesin pengolahan, pengepakan dan penjualan; Produk hasil laut dan ikan; Perusahaan produk kosmetik dan kesehatan yang menggunakan hasil laut; UMKM podusen kerajinan hasil laut (mutiara, kerang dll.); Perusahaan jasa survey dan pemetaan; Obyek wisata laut; Perusahaan jasa transportasi laut dan pelabuhan Perguruan Tinggi Maritime Lembaga Penelitian Perbankan dan lembaga pembiayaan CSR yang berhubungan dengan kelautan. Pengunjung Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 ditargetkan akan dikunjungi oleh puluhan ribu  orang meliputi : Pejabat pemerintah pusat dan daerah di Indonesia; Pelaku bisnis / pengusaha nasional sektor kelautan dan perikanan; Para Buyers potensial dan investor yang ingin menanamkan modalnya di sektor kelautan dan perikanan; Praktisi dan pemerhati kelautan dan perikananr; Kalangan Perguruan Tinggi; Masyarakat Umum; Masyarakat umum. Media dan Publikasi Untuk mendatangkan pengunjung pada kegiatan pameran Indonesian Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 akan dipromosikan  melalu beberapa media, antara lain : Media cetak : surat kabar, majalah, undangan; Media elektronik : TV, radio, dan websites; Media ruang luar : spanduk, poster, flyer dan umbul-umbul. Acara Pendukung Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014. Kegiatan pendukung untuk Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 yang  diadakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut : Seminar / Forum Bisnis Merupakan kegiatan yang menopang dalam terselenggaranya kegiatan pameran ini, bertujuan memberikan pemahan dan sosialisasi kepada para pengunjung pameran mengenai  tantangan investasi dan bisnis industri perikanan dan makanan olahan hasil laut. Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah dan pengusaha daerah  memaparkan betapa besar potensi investasi dan betapa menguntungkan peluang bisnis perikanan dan olahan hasil laut dari berbagai daerah di Indonesia.  Penguasaha perikanan dan olahan hasil laut serta pengusaha yang tertarik untuk berbisnis industri tersebut tidak akan melewatkan kesempatan yang sangat berharga dalam seminar Talk Show Produk-produk kelautan dan perikanan Merupakan kegiatan yang diharapkan bisa menggambarkan produk-produk hasil dari bidang kelautan dan perikanan yang  amat banyak macam dan ragamnya dari berbagai daerah yang bisa digali dan dikembangkan sebagai aset yang nantinya bisa di perdagangkan, baik dipasaran dalam negeri maupun pasaran luar negeri, sehingga akan meningkatkan perekonomian Masyarakat Indonesia dan khususnya masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penganugerahan Stand Terbaik. Lomba mewarnai untuk anak-anak tentang potensi kelautan dan perikanan. Hiburan (Live Musik), Game Interaktif. Selama pameran berlangsung, pengunjung yang hadir banyak diikuti oleh seluruh  masyarakat luas yang cukup antusias selama dalam mengikuti jalannya pelaksanaan kegiatan ini  juga dihibur dengan adanya orgen tunggal yang diadakan oleh Panitia penyelenggara pameran.  Disamping itu para peserta pameran  juga dilibatkan untuk bisa berinteraksi dengan musik yang terus mengiringi jalanya pameran tersebut, sehingga suasana keramaian jalanya pameran selalu terjaga. PENUTUP Pameran Indonesian Marine and Fisheries, Invesment Expo & Business  Forum 2014 merupakan salah satu ajang bergengsi yang diikuti oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mempromosikan produk-produk unggulan hasil perikanan dari Kabupaten/Kota sebagai wadah bagi pengusaha untuk memasarkan produk-produk yang potensial dan berdaya saing tinggi.  Pameran ini di menangkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau dengan mendapat juara I sebagai Stand terbaik. Sedangkan Juara II di menangkan oleh peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimatin Timur dan juara III berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Banten  Dengan harapan Pameran Indonesia Investment Marine & Fisheries Expo 2014 ini memberi manfaat yang besar bagi para pelaku usaha dan semua pihak yang terlibat khususnya dalam upaya promosi potensi produk kelautan dan perikanan yang pada giliranya akan memberikan kontribusi positif  bagi pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan di Indonesia Sebagai ajang pameran, Indonesian Investment marine and  Fisheries Expo 2014 merupakan   pameran yang sangat efektif karena di tempat ini banyak berkumpul elemen masyarakat perikanan dari berbagai lapisan, seperti instansi pemerintah dan pelaku usaha  industri bidang kelautan dan perikanan yang memungkingkan terjadinya kontak-kontak bisnis antara peserta dan pengunjung pameran.  Dari kontak yang terjadi inilah diharapkan adanya tindak lanjut berupa kontrak kerjasama yang berujung adanya investasi. Secara keseluruhan penyelenggaraan Pameran Indonesian Investment Marine and  Fisheries Expo 2014 berjalan dengan lancar dan sukses, hal ini dapat diketahui dengan banyaknya pengunjung yang berminat dan bersedia datang ke stand Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.  Produk olahan hasil perikanan dari Bangka Belitung juga banyak diminati dan disukai pengunjung pameran. Dari pameran ini juga terjadi kontak antara Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai pembina UKM pengolahan hasil perikanan di Bangka Belitung dengan pengunjung pameran yang sebagian merupakan investor dalam dan luar negeri.  Diharapkan kontak yang terjadi ini dapat berujung dengan adanya ketertarikan dari investor untuk berinvestasi di Bangka Belitung. Upaya untuk mempromosikan produk unggulan daerah dari Bangka Belitung akan senantiasa dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan potensi unggulan khususnya olahan hasil perikanan yang dapat dijadikan peluang investasi. Pola promosi dapat dilakukan secara koordinatif  (bersama) dengan instansi/lembaga lain secara berkelanjutan dan terpadu.  Dilain pihak, daerah pun diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk unggulannya agar lebih beragam dan inovatif, sehingga dapat lebih bersaing di pasar lokal dan global.(js)

jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya
Pameran Indonesia Seafood
17 Sep 2015

Pameran Indonesia Seafood

Jumlah penduduk duniadiperkirakan 9,6 miliar populasi manusia di tahun 2050, demikian pula konsumsi produksi perikanan dunia diperkirakan meningkat hingga 133 persen dari angka yang diproduksi saat ini meningkat dari 67 juta ton pada tahun 2012 menjadi 140 juta ton pada 2050 . Budidaya perikanan (akuakultur) merupakan sektor yang prospektif untuk dikembangkan karena potensi yang besar dibandingkan dengan perikanan tangkap.  Di sisi lain permintaan yang dihasilkan dari pertumbuhan sektor perikanan diprediksi akan menjadi pemacu bagi pembangunan ekonomi negara-negara yang memiliki hasil maritim yang melimpah. Secara global, keadaan overfishing pada perikanan tangkap merupakan keadaan yang sudah sangat serius untuk  ditangani. Semakin lama jumlah armada semakin bertambah menjadi dua sampai tiga kali lipat dibandingkan 10 tahun yang lalu dengan peralatan teknologi  semakin canggih tanpa memperhatikan jumlah ketersediaan ikan dan species laut lainnya di alam. Misalnya di Inggris, berdasarkan pemberitaan di Media Indonesia edisi 11 Mei 2010, bahwa, nelayan di Inggris harus berupaya lebih keras untuk mengais sisa-sisa ikan di perairan mereka. Mereka harus bekerja 17 kali lebih keras untuk menangkap ikan dengan jumlah yang sama dengan 120 tahun yang lalu. Hal itu disebabkan karena peralihan dari penggunaan dari kapal layar ke kapal motor yang berteknologi tinggi. Penangkapan berlebih menjadi masalah karena berdasarkan data yang diperoleh oleh organisasi Food and Agriculture Organization  (FAO) yang dipublikasikan 2 tahun sekali menyebutkan bahwa lebih dari 80% stok ikan di dunia mengalami eksploitasi berlebihan atau telah dihabiskan atau dalam status kolaps. Dan secara global, stok  predator  di laut sudah habis sekitar 90%. Hal ini merupakan kasus yang serius karena populasi dari predator tingkat akhir merupakan kunci indikator dari ekosistem yang sehat. Keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Sebagian besar perairan Indonesia telah mengalami overfishing. Hampir separuh Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia mengalami tangkap lebih yang sangat parah untuk ikan karang dan lobster, sementara lebih dari separuh WPP Indonesia telah mengalami tangkap lebih untuk udang penaeid (PRPT-BRKP dan PPPO-LIPI, 2002). Hal ini diperparah pula dengan masih digunakannya data tangkapan per unit usaha serta model Maximum Sustainable Yield (Tangkapan Maksimum Lestari) yang beresiko terhadap kelestarian dan keuntungan jangka panjang perikanan Indonesia (Mous dkk.2005). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Indonesia bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan tangkap yang sangat besar baik dari segi kuantitas maupun keanekaragamannya. Beberapa sumber daya perikanan laut di wilayah pesisir dan lautan telah mengalami over exploitasi. Kondisi overfishing ini tidak hanya disebabkan karena tingkat penangkapan yang melampaui potensi lestari sumberdaya perikanan, tetapi juga disebabkan karena kualitas lingkungan laut sebagai habitat hidup ikan mengalami penurunan atau kerusakan akibat pencemaran dan degradasi fisik ekosistem perairan sebagai tempat pemijahan, asuhan, dan mencari makan bagi sebagian besar biota laut tropis.   Selain itu juga, pembangunan yang tidak ramah lingkungan, pemberian ijin untuk perikanan tangkap yang melebihi quota dan pencurian ikan dari Negara asing juga merupakan penyebab terjadinya penurunan ketersediaan ikan di Indonesia.   Departemen Kelautan dan Perikanan DKP, melalui Ditjen Perikanan Tangkap sudah memperketat penerbitan surat izin penangkapan ikan (SIPI) dan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI). Hal ini dilakukan agar penangkapan ikan di Indonesia tak overfishing. Penertiban surat izin operasional penangkapan kapal itu juga dimaksudkan untuk menekan jumlah kapal asing yang masuk secara ilegal di perairan Indonesia.  Meskipun sudah diperketat perijinannya penangkapan, tetapi keadaan yang terjadi sekarang di wilayah Indonesia Timur masih sangat lemah pengawasannya. Masih banyak terjadi pelanggaran perikanan yang merugikan banyak pihak, baik masyarakat maupun keberlangsungan perikanan yang ada. Permasalahan overfishing ini harus segera diatasi agar keberlanjutan sumberdaya ikan di Indonesia tetap dapat terjamin dengan baik.  Hal pertama yang harus dilakukan adalah penataan kembali sistem perikanan nasional dengan tindakan pengelolaan sumberdaya ikan secara rasional (pembatasan hasil tangkapan dan upaya tangkapan). Kedua, pengelolaan sumberdaya ikan secara bertahap dan terkontrol yang diikuti dengan monitoring seksama. Ketiga, kegiatan pengawasan, pengendalian, dan pemantauan terhadap armada, alat tangkap dan nelayan untuk mengurangi resiko kegiatan overfishing. Industri akuakultur sendiri telah meningkat drastis sejak tahun 1990, dimana memproduksi ikan dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi dan turut berkontribusi meringankan terjadinya tekanan pada konversi ekosistem mangrove.  Namun demikian, perkembangan akuakultur tetap saja harus diperhatikan, mengingat bentuk budidaya ini  tetap membutuhkan tanah, pasokan air, pakan dan input energi yang semakin langka. Hasil studi yang dikeluarkan oleh World Resources Institute (WRI), World Fish, Bank Dunia, INRA dan Kasetsart University di awal bulan Juni 2014 menyebutkan bahwa selain penambahan pasokan dari hasil perikanan laut tangkap, maka pertambahan untuk mendorong industri akuakultur dunia menjadi penting untuk memenuhi sumber konsumsi protein dunia. Dalam pengembangan akuakultur, para peneliti sependapat bahwa faktor-faktor seperti polusi, emisi gas rumah kaca, hilangnya habitat dan dampak perubahan iklim merupakan konsideran penting yang perlu dipertimbangkan. Peningkatan produksi dari budidaya perikanan akan menjadi penting dalam memenuhi kebutuhan ketahanan pangan dan gizi dunia, karena ikan mengandung seperenam dari protein hewani orang yang mengkonsumsi, serta mengandung mikronutrien penting dan asam lemak omega-3.  Namun, ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar lingkungan produksi budidaya tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup dan mempertahankan pertumbuhannya.  “Budidaya perikanan lebih efisien, mampu menyediakan makanan dan lapangan kerja bagi jutaan orang, serta biaya lingkungan yang relatif rendah,” jelas Richard Waite dari WRI.  “Penangkapan ikan laut mencapai puncaknya pada dasawarsa 1990-an, untuk kemudian budidaya perikanan berkembang sangat cepat sesuai dengan permintaan dunia, dan sekarang hampir separuh yang kita konsumsi saat ini,” salah satu peneliti dalam riset ini. Menurutnya, perbaikan dalam model budidaya perikanan ini akan meningkatkan produktivitas dan kinerja lingkungan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan. Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki panjang garis pantai 104 ribu km dengan luas total wilayah maritim 5,8 juta km2.  Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total produksi perikanan Indonesia pada tahun 2013 mencapai 19,56 juta ton, jauh berkembang dari 15,5 juta ton pada tahun 2012.  Dari jumlah tersebut perikanan tangkap menyumbang 5,86 juta ton, sedangkan akuakultur menyumbangkan 13,7 ton. Dengan kecenderungan produksi perikanan dunia yang meningkat, selama tahun 2012 Indonesia menikmati neraca perdagangan positif untuk  sektor perikanan dengan surplus USD 3,52 miliar. Namun demikian, seperti disampaikan Suseno Sukoyono, Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, dikutip dalam penjelasannya di FPIK Unpad (23/10/2013), hingga sekarang pemanfaatan akuakultur masih terbatas. “Potensi besar, namun pemanfaatan terbatas,” tuturnya. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  sebagai wilayah maritim dan kepulauan di wilayah Sumatera, memiliki letak geografis 104o50’- 109030’BT dan 00o50’-04010’LS, memiliki potensi sumberdaya perikanan tangkap, perikanan budidaya dan hasil pengolahan yang berlimpah. Pembangunan sektor perikanan merupakan prioritas Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Yang diharapkan mampu memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja serta pembangunan wilayah secara menyeluruh. Menurut letak  geografi sebagai berikut : Luas Wilayah : 81.582 KM2, Luas Daratan  : 16.281 KM2, panjang garis pantai  1.200 KM2, jumlah kolong 887 buah, Luas Kolong 1.712 Ha. Potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang mampu di eksploitasi  dengan jumlah produksi perikanan tangkap 202.565,20  ton (Tahun 2012) dengan jumlah nilai produksi Rp.3.526.810.175,-   dan perikanan budidaya sebesar 5.108,09 ton (Tahun 2013) dengan jumlah nilai produksi sebesar Rp.80.422.364.000,-  .  Pembangunan sektor perikanan merupakan prioritas  Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diharap mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap income daerah, penyerapan tenaga kerja dan pembangunan daerah secara berkelanjutan dengan demikian  sektor unggulan yang diperkenalkan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke masyarakat luas dapat mencapai hasil maksimal. Peluang yang sangat besar untuk memanfaatkan sumber daya perikanan yang dimiliki, baik perikanan laut maupun perikanan darat, karena sebagian besar wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah perairan.  Tidaklah mengherankan jika saat ini potensi bidang kelautan dan perikanan akan lebih  diharapkan untuk dapat berperan besar dalam pembangunan perekonomian.  Potensi kelautan dan perikanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari potensi perikanan tangkap, potensi perikanan budidaya, dan potensi bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang terbagi menjadi industri rumah tangga dan industri skala besar.  Berlimpah potensi hasil kelautan di Bangka Belitung maka perlu diikutsertakan dalam suatu pameran bertaraf  nasional seperti Pameran. Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa pameran dan promosi sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat untuk membuka peluang kerjasama atau mungkin ada yang beranggapan sebaliknya, mengapa ?. Ada juga asumsi yang timbul bahwa pameran dan promosi hanya menghabis-habiskan anggaran, karena hasilnya seolah tidak nampak pada saat yang bersamaan. Perbedaan cara pandang tentang manfaat atau tidaknya suatu pameran dan promosi inilah yang menjadi dasar informasi mengenai pameran. Pameran dan Promosi pada hakekatnya hanyalah merupakan suatu sarana untuk memberikan informasi yang akurat tentang sesuatu yang akan ditampilkan, memberikan penjelasan terhadap sesuatu hal yang ingin diketahui oleh individu maupun kelompok baik itu pengusaha, akademisi, masyarakat umum,dll, tanpa harus jauh jauh mendatangi langsung lokasi yg dituju, tentunya seluruh informasi yang ingin didapatkan harus bisa terwakili. Caranya tentu dengan mempersiapkan dan mengemas segala informasi yang akan dibutuhkan oleh pengunjung secara detail, biasanya media yang disediakan pihak penyelenggara hanyalah sebuah stand minimalis dengan space ukuran 3x3 m atau 3x4 m sesuai anggaran yang tersedia dimasing- masing lembaga partisipan. Namun kenyataannya space stand tersebut haruslah difasilitasi oleh setiap instansi/ lembaga , kadangkala kondisi riilnya space yang disediakan tersebut belum memiliki fasili  tas yang memadai, disitulah dituntut imajinasi dan metode pikir partisipan menyiasati dana yang tersedia untuk membuat design stand yang disediakan tersebut agar dapat tampil semenarik mungkin sehingga mengundang minat para pengunjung untuk datang dan melihat-lihat. Namun tidak semua lembaga/instansi partisipan yang memiliki dana cukup besar untuk menyuguhkan tampilan    stand menarik, kadangkala haruslah disiasati dengan apa yang tersedia didalam anggaran, meskipun demikian tak jarang juga walau dengan anggaran yang minim tersebut adakalanya diperoleh penghargaan dari pihak penyelenggara sebagai stand terbaik. Selain itu yang tak kalah penting dalam pelaksanaan setiap pameran dan promosi adalah pengetahuan petugas promosi dan pameran terkait hal-hal yang mungkin akan ditanyakan oleh pengunjung, harga matinya petugas wajib menguasai segala aspek informasi yang dibutuhkan pengunjung, hal ini mutlak adanya, bagaimana tidak, stand yang ada tersebut dianggap harus dapat mewakili satu instansi/ lembaga untuk menyuguhkan informasi yang sebanyak banyaknya, sejelas jelasnya dan seakurat mungkin. Tentunya disesuaikan dengan tema pameran dan promosinya. Disamping itu sarana informasi tersebut pun harus di suguhkan dengan padat, jelas, lugas dan benar, beberapa media yang lazim digunakan antara lain berupa leaflet/brosur, banner, backdrop informasi, dvd informasi maupun media lainnya yang dianggap dapat memberikan informasi yang dibutuhkan pengunjung dan tentunya kedepan masih dibutuhkan lagi sarana/media lainnya yang lebih muthahir untuk mendukung aneka informasi yang akan disampaikan. Perlu disadari bahwa hasil promosi atau pameran kadang ada yang dapat diperoleh pada saat bersamaan dengan pelaksanaan, namun sebagian besar baru bisa diperoleh hasilnya setelah beberapa lama pelaksanaan, dari pengalaman penulis, pernah ada tindaklanjut hasil promosi selang 1 (satu) bulan, beberapa bulan bahkan 1 (satu) tahun setelah pelaksanaan pameran dan promosi. Demikian juga halnya dirasakan oleh beberapa pelaku usaha (UKM) dan  kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) yang pernah difasilitasi oleh instansi/ lembaga untuk mengikuti event promosi dimaksud, hasil akhirnya bisa dalam bentuk peluang kerjasama antar pelaku usaha, peluang investasi, peluang tukar menukar informasi, peluang informasi menambah wawasan dan pengetahuan petugas maupun pelaku usaha terhadap teknologi informasi baru, perluasan jenis usaha , peluang pemasaran yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi pelaku usaha itu sendiri maupun sektor usaha terkait di daerah. Dengan demikian pameran dan promosi bukan hanya sekedar wadah transaksi saja melainkan:  Pengembangan wawasan dan motivasi bagi peserta UKM untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan agar dapat bersaing dipasaran  Peningkatan SDM dan informasi mengenai perkembangan usaha yang dilakukan sehingga peserta memiliki perbandingan dengan usaha yang dimiliki  Peningkatan investasi  Peningkatan pemasaran  Dikenalnya produk unggulan hasil perikanan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Adanya peningkatan permintaan pemasaran produk perikanan konsumsi seperti lobster, kerapu, tuna dll, bertambahnya lokasi daerah pemasaran, selain itu semakin dikenalnya produk- produk hasil olahan perikanan Prov.Kep.Babel dimasyarakat lokal maupun mancanegara, semakin berkembangnya keinginan pelaku usaha untuk saling berkompetisi dengan menciptakan produk inovatif dan siap bersaing dengan produk lain diluar Prov.Kep.Babel. Selain itu juga memberikan dampak besar untuk manambah wawasan pelaku usaha untuk peningkatan produk yang dihasilkan dengan komitmen yang jelas dengan selalu menjaga mutu, keamanan pangan, peningkatan produk inovatif yang dapat bersaing dengan produk daerah lain serta menjaga kontinuitas produksi mengingat pasar bebas yang semakin didepan mata. Dengan melihat dampak positif yang ditimbulkan dengan adanya promosi dan pameran tersebut semakin membuka mata kita bahwa promosi dan pameran ini dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam menciptakan peningkatan perkembangan usaha diberbagai sector terutama hasil perikanan kelautan di Prov.Kep.Babel. Indonesia Seafood Expo (ISE)  2014 merupakan ajang terbesar di Indonesia yang menampilkan berbagai macam produk, jasa, dan teknologi di bidang kelautan dan perikanan.  ISE 2014 diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) bekerjasama dengan Even Organizer (EO) PT. Rajawali Pacific Internusa ,  didukung oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah, Asosiasi di bidang kelautan dan perikanan, Dewan Kelautan, Indonesia Aquaculture, Internusa dan Royalindo Convention International. Peserta ISE 2014 diikuti oleh Prov.Kep.Babel dan seluruh pemerintah daerah di Indonesia, industri di bidang kelautan, industri di bidang perikanan tangkap dan budidaya, industri logistik dan distribusi perikanan, universitas yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kelautan dan perikanan, industri seafood dan pengolahan hasil perikanan dari dalam dan luar negeri. Indonesia Seafood Expo  2014 ini dihadiri oleh para investor, supplier, buyer, dan akademisi dari dalam dan luar negeri, mahasiswa, dan juga masyarakat luas yang cukup antusias selama dalam mengikuti jalannya pelaksanaan Kegiatan Indonesia Seafood Expo  2014  ini. Pameran mengenai perikanan dan seafood, Indonesia Seafood Expo 2014, Indonesia Seafood Expo (ISE) merupakan pameran perikanan dan seafood terbesar di Indonesia. Tujuan penyelenggaraan ISE untuk mempromosikan produk-produk dan teknologi kelautan dan perikanan kepada para investor, buyers dan masyarakat umum. Khusus masyarakat umum, melalui penyelenggaraan ISE diharapkan akan mengedukasi masyarakat tentang ikan dan produk olahannya sehingga masyarakat akan gemar mengkonsumsi ikan. Jumlah rata-rata daya konsumsi ikan perkapita di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada pada angka 37.54 Kg (Tahun 2010), 38.82 Kg (Tahun 2011), 40.25 kg (Tahun 2012), dan 39.44 Kg (Tahun 2013), sementara angka konsumsi ikan tingkat nasional 32.25 Kg (Tahun 2011), 33.89 Kg (Tahun 2012), dan 35.14 Kg (Tahun 2013). Berarti daya konsumsi ikan masyaratkat kepulauan Bangka Belitung berada di atas nilai rata-rata nasional. Pameran juga sebagai media kampanye guna memberikan edukasi lebih intensif kepada masyarakat luas mengenai pentingnya mengkonsumsi seafood. Terutama untuk kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. ISE 2014 diikuti oleh dinas kelautan dan perikanan provinsi di Indonesia. Peserta akan menampilkan aneka produk olahan hasil perikanan unggulan berbasis utamanya dari komoditas Industrialisasi Perikanan. Pada ISE kali ini tak hanya produk-produk makanan berbasis ikan yang dipamerkan, komoditas ikan non konsumsi juga turut dipamerkan seperti ikan hias, tanaman air, mutiara, kerajinan dari kekerangan, kerajinan dari kulit dan sisik ikan, kosmetik berbahan baku rumput laut sampai hasil-hasil pemanfaatan limbah kulit udang dan kepiting yang diolah menjadi pupuk dan bahan pengawet makanan. Pengunjung yang hadir juga dihibur dengan beberapa kegiatan yang  diselenggarakan selama pameran. Pada hari kedua, tanggal 28 Agustus 2014 diselenggarakan Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke -12 yang diikuti oleh 34 provinsi se Indonesia. Berbagai kreativitas dalam menciptakan menu diadu pada lomba masak. Pameran ini diikuti oleh para pelaku usaha perikanan dan dinas kelautan dan perikanan seluruh Indonesia yang menampilkan berbgai macam produk perikanan unggulan dari setiap daerah. Selain olahan ikan, pameran ini menampilkan berbagai jenis ikan hias dan produk perikanan non konsumsi lainnya seperti kerajinan kekerangan, tanamanair, kosmetik rumput laut,mutiara dan lain sebagainya. Adapun target pengunjung pada pameran ini adalah pelaku usaha, investor, akademisi, dan masyarakat umum. Selama palaksanaan pameran berlangsung berbagai kegiatan terselenggara setiap harinya antara lain, Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke-12, , Demo Pengolahan Produk Perikanan, Demo Masak Ikan, serta Lomba Inovesi Pengembangan Produk Perikanan. Pameran merupakan salah satu cara untuk menyampaikan promosi dalam menampilkan kekayaan, keragaman budaya dan potensi daerah yang menjadi unggulan di semua sektor dari hasil pembangunan suatu daerah serta sebagai wahana pertemuan antara produsen dan pembeli yang berpotensi beserta calon investor.Pelaksanaan pamerandiharapkan terjadi suatu kesepakatan ataupun kontrak di bidang ekonomi dan bisnis yangsaling menguntungkan untuk semua pihak. Realisasi pelaksanaan kegiatan pameran diharapkan mampu memperkenalkan sektor unggulan daerah agar dikenal masyarakat luas hingga ke seluruh Indonesia dan mancanegara.Satu sektor unggulan yang diperkenalkan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke masyarakat luas yakni sektor kelautan dan perikanan Peserta ISE 2014 diikuti oleh seluruh pemerintah daerah, industri di bidang kelautan, industri di bidang perikanan tangkap dan budidaya, industri logistik dan distribusi perikanan, universitas yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kelautan dan perikanan, industri seafood dan pengolahan hasil perikanan dari dalam dan luar negeri.Indonesia Seafood Expo2014 ini dihadiri oleh para investor, supplier, buyer, dan akademisi dari dalam dan luar negeri, mahasiswa, dan juga masyarakat luas yang cukup antusias selama dalam mengikuti jalannya pelaksanaan Kegiatan Indonesia Seafood Expo2014 ini. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai beberapa alasan dalam mengikuti kegiatan IndonesiaSeafood Expo201 ini, adalah pameran bidang kelautan dan perikanan terbesar di Indonesia untuk tingkat nasional dengan dihadiri lebih dari 50.000 pengunjung dari seluruh penjuru Indonesia. ISE 2014 diselenggarakan di Ibukota negara, Jakarta, yang nota bene merupakan kota bisnis terbesar di Indonesia yang menyediakan berbagai macam kegiatan yang dapat membantu mempromosikan peluang investasi, produk, jasa dan teknologi di bidang kelautan dan perikanan, dilaksanakan oleh event organizer yang sudah berpengalaman menyelenggarakan berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Lebih spesifik lagi melalui pameran Indonesia Seafood Expo2014 ini diharapkan dari sektor unggulan dari bidang kelautan dan perikanan yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dapat terekspos lebih luas lagi sehingga dapat dikenal sampai ke penjuru tanah air dan mancanegara. Dengan lebih dikenalnya lagi potensi kelautan dan perikanan di Bangka Belitung, diharapkan akses dan jaringan untuk memajukan perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan lebih terbuka dan lebih cepat lagi sehingga pada gilirannya nanti diharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan segera terwujud. Manfaat dan  Tujuan Indonesia Seafood Expo 2014 ini diikuti oleh seluruh pemerintah daerah, industri bidang kelautan dan perikanan, serta universitas/ lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kelautan dan perikanan.  Manfaat yang diperoleh dari Indonesia Seafood Expo 2014 untuk masing-masing instansi terkait adalah sebagai berikut : Pemerintah Daerah Mempromosikan kebijakan dan peluang investasi di bidang kelautan dan perikanan; Memfasilitasi branding produk dan jasa unggulan daerah di bidang kelautan dan perikanan; Mengembangkan kerjasama dalam bidang kelautan dan perikanan dengan berbagai pihak. Industri Mempromosikan produk, jasa, dan teknologi kepada masyarakat luas; Mendorong brand image produk dan jasa yang ditawarkan; Mendorong penjualan produk kepada masyarakat luas secara langsung; Mengembangkan kerjasama dan jaringan bisnis dengan pihak terkait baik pemerintah maupun industri terkait; Mengembangkan market intelligence. Universitas/ Lembaga Pendidikan Mempromosikan layanan pendidikan di bidang kelautan dan perikanan kepada masyarakat luas; Mempromosikan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat luas; Mengembangkan kerjasama dengan pemerintah maupun dunia bisnis/industri. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan Pameran Indonesia Seafood Expo  2014 yang diikuti oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka  Belitung adalah untuk  menyebarluaskan informasi tentang produk perikanan unggulan yang ada di provinsi kepulauan Bangka belitung kepada masyarakat luas, meningkatkan citra/ image  produk perikanan unggulan daerah di pasar dalam negeri dan memfasilitasi promosi produk Usaha Kecil dan Menengah ( UKM )perikanan unggulan daerah pada ajang pameran berskala Nasional.  Pameran Indonesia Seafood Expo  2014 ini juga mempunyai sasaran-sasaran yang jelas sama seperti pameran atau expo lainnya.  Untuk Indonesia sasarannya adalah terfasilitasinya produk unggulan hasil kelautan dan perikanan yang berpotensi yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan tersebar luaskannya informasi tentang  produk  perikanan unggulan daerah yang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung di pasar dalam negeri Sedangkan sasaran pengunjung pameran adalah masyarakat umum dan masyarakat dunia usaha, baik skala kecil, menengah, dan besar, baik lokal maupun mancanegara yang merupakan calon investor potensial. Profil Produk Produk yang dipamerkan pada Pameran Indonesia Seafood Expo 2014 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meliputi produk-produk sebagai berikut : Informasi terkait peluang usaha dan investasi bidang kelautan dan perikanan; Produk olahan hasil perikanan; Profil daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; Handicraft; Produk UMKM lainnya. Peserta Pameran Peserta Pameran Indonesia Seafood Expo 2014 adalah sebagai berikut : Kementerian Kelautan dan Perikanan; Pemerintah daerah : Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, dan Badan Promosi Investasi Daerah; BUMN; Industri budidaya perikanan; Eksportir perikanan; Produsen pakan ikan; Industri penangkapan ikan; Perusahaan pengolahan ikan dan makanan laut; Teknologi dan peralatan penangkapan ikan serta makanan laut; Asosiasi Perikanan; Restoran; Teknologi Budidaya; Balai Penelitian Pengembangan dan Pelatihan Bidang Perikanan; Industri logistik, kelautan, dan perikanan. Pengunjung Pameran Indonesia Seafood Expo 2014 ditargetkan akan dikunjungi oleh Puluhan ribu  orang meliputi : Pejabat Pemerintah; Pengusaha nasional sektor kelautan dan perikanan; Distibutor/ supplier; Eksportir; Akademisi; Pecinta ikan hias; Masyarakat umum. Media dan Publikasi Untuk mendatangkan pengunjung tersebut di atas, Indonesia Seafood Expo 2013 akan dipromosikan secara komprehensif melalui : Media cetak : surat kabar, majalah, newsletter; Media elektronik : TV, radio, dan websites; Media ruang luar : spanduk, baliho, dan umbul-umbul; Penyebaran undangan kepada para pengusaha dan investor dalam dan luar negeri baik langsung maupun melalui Kamar Dagang dan Industri Negara sahabat/ melalui etalase perdagangan Indonesia dan luar negeri. Pendukung Seafood Expo 2014. Kegiatan pendukung untuk Pameran Indonesia Seafood Expo 2014  yang juga diadakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut : Ornamental Fish 2014 Koleksi biota ornamental baik itu dalam keadaan hidup atau mati akan selalu ada permintaan karena keindahan dan keunikannya sehingga orang berkenginan untuk memiliki baik sekedar untuk hiasan atau sebagai hobi. Indonesia sebagai Negara yang mempunyai keanekaragaman bioata yang tinggi memnjadi supplier/penyalur paling potensial di perdagangan ini. Namun, situasi untuk saat ini masih terdapat pro dan kontra yang sangat kuat terkait perdagangan biota ornamental. Kekhawatiran mayoritas  datang dari pemerhati lingkungan, NGO dan peneliti. Pemanfaatan yang belum setimbang dengan pengelolaan menjadi kekhawatiran paling utama dimana belum semua rantai perdagangan memegang tanggung jawab, ekstraksi yang tinggi belum didasari informasi bioekologi dan pemanfaatan intensif mengundang kekhawatiran akan kondisi terumbu karang. Dilain pihak, pemerintah juga belum bisa berbuat banyak. BKSDA sebagai Pengawas di lapangan masih lemah, selain itu terlalu banyak jenis SDA yang diurusi oleh BKSDA, ikan ornamental hanya sebagian kecilnya saja. Bea cukai sebagai penjaga pintu terakhir ekspor dan penjaga pintu awal impor dihadapkan pada masalah tidak mengerti tentang spesies CITES. Pemanfaatan selalu ada pro dan kontra, namun perdagangan tetap berlangsung. NGO/peneliti/pecinta lingkungan khawatir ekstraksi terus menerus akan merusak kondisi terumbu karang kedepannya. Diharapan penangakapan secara liar dapat dialihkan ke budidaya (semua atau sebagian) ATAU ditutup total. Masyarakat internasional banyak yang belum mengetahui bahwa beberapa negara telah lakukan upaya pengelolaan biota ornamental. Dalam 5 hingga 10 tahun jika Indonesia tidak lakukan perbaikan pengelolaan, kualitas dan kuantitas ikan hias dari indonesia akan turun. Salah satu upaya mengatasi masalah/tantangan diatas adalah dengan menerapkan pengelolaan pemanfaatan ikan hias ramah lingkungan. diharapkan dengan penerapan metode yang tepat, pemanfaatan akan berjalan ramah lingkungan sehingga dengan demikian tekanan terhadap terumbu karang akan berkurang. Metode ini harus disosialisasikan dan diterapkan kepada semua pelaku perdagangan biota ornamental, seperti: Nelayan Pengepul Eksportir Importir Pedagang di negara tujuan Aquascape Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke 12th Demo Masak Serba Ikan Kegiatan ini menampilkan kreatifitas orang-orang dan lembaga-lembaga pilihan dalam membuat masakan laut yang bergizi dan aman dikonsumsi. Demo Pengolahan Produk Perikanan (Tim BBP2HP,Jakarta) PENUTUP Pameran  Indonesia Seafood  Expo 2014 merupakan salah satu ajang bergengsi yang diikuti oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mempromosikan produk-produk unggulan hasil perikanan dari Kabupaten/Kota sebagai wadah bagi pengusaha untuk memasarkan produk-produk yang potensial dan berdaya saing tinggi.  Sebagai ajang pameran, Indonesia Seafood Expo 2014 merupakan pameran yang sangat efektif karena di tempat ini banyak berkumpul elemen masyarakat perikanan dari berbagai lapisan, seperti instansi pemerintah, industri bidang kelautan, industri bidang perikanan tangkap dan budidaya, serta industri lainnya yang memungkingkan terjadinya kontak-kontak bisnis antara peserta dan pengunjung pameran. Dari kontak yang terjadi inilah diharapkan adanya tindak lanjut berupa kontrak kerjasama yang berujung adanya investasi.Secara keseluruhan penyelenggaraan Pameran Indonesia Seafood Expo 2014 berjalan dengan lancar dan sukses, hal ini dapat diketahui dengan banyaknya pengunjung yang berminat dan bersedia datang ke stand Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.  Produk olahan hasil perikanan dari Bangka Belitung juga banyak diminati dan disukai pengunjung pameran. Dari pameran ini juga terjadi kontak antara Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai pembina UKM pengolahan hasil perikanan di Bangka Belitung dengan pengunjung pameran yang sebagian merupakan investor dalam dan luar negeri.  Diharapkan kontak yang terjadi ini dapat berujung dengan adanya ketertarikan dari investor untuk berinvestasi di Bangka Belitung. Upaya untuk mempromosikan produk unggulan daerah dari Bangka Belitung akan senantiasa dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan potensi unggulan khususnya olahan hasil perikanan yang dapat dijadikan peluang investasi. Pola promosi dapat dilakukan secara koordinatif  (bersama) dengan instansi/lembaga lain secara berkelanjutan dan terpadu.  Dilain pihak, daerah pun diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk unggulannya agar lebih beragam dan inovatif, sehingga dapat lebih bersaing di pasar lokal dan global.(js)  

jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya
Potensi Investasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2015
8 Sep 2015

Potensi Investasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2015

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai wilayah maritim dan kepulauan di wilayah Sumatra dengan  letak geografis 1040 50’-1090 30’ BT dan 000 50’-040 10’ LS memiliki potensi sumberdaya perikanan tangkap, perikanan budidaya dan hasil pengolahan berlimpah. Pembangunan sektor perikanan merupakan sumber prioritas pemerintah Provinsi Kep.Babel diharapkan mampu memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja serta pembangunan wilayah secara berkelanjutan menyeluruh khusus Bangka Belitung. Provinsi Kep.Babel menurut letak sebagai berikut, luas wilayah 81.582 km2, luas daratan 16.281 km2, perairan laut 65.301 km2, panjang garis pantai 1.200 km2, jumlah kolong 887 buah, luas kolong1.712 ha, jumlah pulau 950 pulau, dan jumlah pulau bernama 470 buah. Program Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2012-2017 sebagai berikut : Dukungan Manajemen dan teknis Kelautan dan Perikanan. Pengembangan Perikanan Tangkap. Pengembangan Perikanan Budidaya. Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran. Produk Hasil Kelauatan dan Perikanan. Pengelolaan dan Pengawasan Sumberdaya Laut. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Serta Sumber Daya Perikanan. Visi Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov.Kep.Babel yakni “Mewujudkan Kedaulatan Dalam Menggelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Secara Berkelanjutan berbasis Ekonomi Kerakyatan”, sedangkan Misi DKP Pemprov.Kep.Babel yakni : 1.Mewujudkan Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankansumberdaya kelautan dan perikanan dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai Provinsi Kepulauan. 2. Mewujudakan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. 3. Mewujudkan kualitas hidup masyarakat kelautan dan perikanan yang tinggi, maju dan sejahtera serta berkepribadian  dalam kebudayaan berbasis ekonomi kerakayatan. Perairan laut Kepulauan Bangka Belitungmemilikipotensi sumberdaya kelautan yang beraneka ragam hasil laut, tambak, kolam, keramba dan jaring apung dengan jumlah dan nilai produksi yang besar. Potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimiliki Provinsi kepulauan Bangka Belitung sebagai berikut : 1.Perikanan Tangkap, luas areal perairan teritorial 65.301km2 dengan potensi produksi 282.100 ton, potensi produksi perairan ZEE  217.400 ton. 2.Perikanan Budidaya, luas areal budidaya air laut 120.000 ha  dengan potensi produksi 1.216.000 ton/tahun, luas areal budidaya air payau 250.000 ha dengan potensi produksi 100.000 ton/tahun, dan luas areal budidaya air tawar 1.602 ha dengan potensi produksi 16.000ton/tahun. Jumlah produksi perikanan Budidaya 7 kabupatenn/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai berikut : Kota Pangkalpinang, (tahun 2012) 1.199,50 ton, (tahun 2013) 920,76 ton, (tahun 2014) 1.037,62 ton, Kabupaten Bangka (tahun 2012) 296,36 ton, (tahun 2013) 256,92 ton, (tahun 2014)  434,15 ton, Kabupaten Bangka Barat (tahun 2012) 714,27 ton, (tahun 2013) 732,60 ton, (tahun 2014) 749,07 ton, Kabupaten Bangka Tengah (tahun 2012) 610,38 ton, (tahun 2013) 341,78 ton, (tahun 2014) 1.159,97 ton, Kabupaten Bangka Selatan (tahun 2012) 4.449,59 ton, (tahun 2013) 475,36 ton, (tahun 2014) 635,12 ton, Kabupaten Belitung (tahun 2012) 736,59, (tahun 2013) 114,50 ton, (tahun 2014) 95,80 ton, Kabupaten Belitung Timur (tahun 2012) 100,49 ton, (tahun 2013) 97,16 ton, (tahun 2014) 86,89 ton. Sedangkan Nilai dan jumlah Produksi Perikanan Tangkap Bangka Belitung dari 7 kabupaten/Kota secara akumulasi  sebagai berikut : jumlah produksi perikanan tangkap (tahun 2011), 192.473,20 ton dengan nilai produksi Rp.3.258.524.232.820,-,(tahun 2012) 202.565,20 ton dengan nilai produksi Rp.3.526.810.456.800,-,  (tahun 2013)   199.241,40 ton dengan nilai produksi Rp. 3.811.820.757.300,-, (tahun 2014) 203.284,4 ton dengan nilai produksi Rp.4.478.197.305.400,-. Sementara rincian jumlah produksi dan nilai produksi Hasil Pengolahan dari 7 kabupaten /Kota Bangka Belitung pada tahun 2014 sebagai berikut, Kabupaten Bangka 236.421 kg dengan nilai produksi Rp.3.706.028.720,-, Kabupaten Belitung 4.573.599 kg dengan nilai produksi  Rp.4.861.333.983,-, Kabupaten Bangka Barat 175.254 kg dengan nilai produksi Rp.1.779.945.438,-, Kabupaten Bangka Tengah 1.540.931 kg dengan nilai produksi Rp. 8.057.865.536,-, Kabupaten Bangka Selatan 15.128.474 kg dengan nilai produksi Rp.8.916. 208.676,-, kabupaten Belitung Timur 362.058 kg dengan nilai produksi Rp.1.093.278.618,-, Kota Pangkalpinang 48.648 kg dengan nilai produksi Rp.1.750.237.416,-. Jumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan Unit Pengolah Pemasaran Hasil Perikanan tahun 2014 untuk disetiap Kabupaten/Kota di Bangka Belitung sebagai berikut, Kabupaten Bangka memiliki 238 UPI (unit pemasaran 544), Kabupaten Belitung memiliki 230 UPI ( 316 Unit Pemasaran), Kota Pangkalpinang memiliki 285 UPI (624 unit Pemasaran), Kabupaten Bangka Barat memiliki 403 UPI ( 376 Unit Pemasaran), Kabupaten  bangka Tengah memiliki 159 UPI (185 Unit Pemasaran), Kabupaten Bangka Selatan memiliki 367 UPI (279 Unit Pemsaran), Kabupaten Belitung Timur memiliki 175 UPI (200 Unit Pemasaran). Jumlah produksi  tertinggi perikanan Budidaya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun 2011-2014 untuk budidaya laut 13.132,17 ton, budidaya tambak 3.084,99 ton, budidaya kolam 7.008,24 ton, budidaya keramba 6,10 ton, dan budidaya jaring apung 10,11 ton. sebagai angkah awal dari DKP pemprov.Kep.Babel, setiap usaha perorangan di bina dan di arahkan untuk membentuk kelompok kecil untuk kemudian membentuk kelompok besar. Dari kelompok masyarakat (Poklahsar) ataupun kelompok nelayan (Pokdan) yang telah memenuhi syarat sesuai kriteria mendapatkan bantuan barang secara gratis dari pemerintah pusat untuk menopang dan mengangkat usaha menengah mikro kecil (UMKM)  menjadi usaha yang mempu mandiri. Dari segi sarana dan prasarana di Babel, jalur pelabuhan  laut memiliki akses hingga ke luar negeri Singapur dan Malaysia.Demikian juga dengan transportasi jalur udara langsung menuju Pulau Batam yang berbatasan dengan negara Singapur.Termasuk keamanan dan kenyamanan lingkungan berinvestasi, daerah Babel memiliki tingkat netralitas yang tinggi sehingga tidak terlalu berpengaruh langsung jika keadaan ekonomi nasional sedang terjadi penurunan. Berdasarkan data dan statistik perikanan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki variasi hasil perikanan yang bervariasi  sehingga mampu menjadi daerah  exportir hasil kelautan dan membuka wirausaha berkelanjutan yang memberikan  income terhadap daerah serta mampu menyerap peluang tenaga kerja.(js)

jeffrin PHM Siregar Baca Selengkapnya