Sungailiat — Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menghadapi tantangan serius dalam upaya mewujudkan generasi unggul. Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting (gangguan pertumbuhan akibat kurang gizi kronis) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) masih tergolong tinggi, yakni 20,1 persen, atau setara dengan satu dari lima anak di Babel berpotensi mengalami stunting. Angka ini masih berada di atas target nasional yang ditetapkan sebesar 18,6 persen.
Urgensi ini menjadi sorotan utama dalam rangkaian kampanye Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) yang digelar di Kabupaten Bangka, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Babel ke-25 dan Hari Ikan Nasional (Harkanmas) ke-12 Tahun 2025, Selasa (18/11/2025).
Periode Emas dan Ancaman Stunting
Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Babel, Noni Hodayat Arsani, menegaskan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan atau yang dikenal sebagai Golden Period—sejak anak dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Menurutnya, anak-anak yang terlahir di masa ini perlu mendapatkan pemenuhan gizi dari protein ikan.
“Angka prevalensi stunting di Babel mencapai 20,1 persen, sementara di Kabupaten Bangka sedikit lebih tinggi, yakni 21,2 persen,” ujar Noni Hodayat Arsani di hadapan ibu hamil dan anak-anak usia di bawah dua tahun (Baduta) yang menjadi fokus utama kegiatan tersebut.
Ia menekankan bahwa stunting bukan hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga mengurangi peluang anak untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan. Salah satu penyebab utama stunting secara umum adalah kurangnya asupan gizi, khususnya protein hewani.
Potensi Maritim dan Solusi Protein Ikan
Babel, sebagai provinsi kepulauan dan daerah maritim, sejatinya memiliki sumber daya ikan yang melimpah. Posisi geografis ini seharusnya menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani terbaik dan paling terjangkau bagi masyarakat Bangka Belitung.
“Bangka Belitung ini sangat kaya akan hasil ikan laut, ikan begitu mudah di dapat dan tersedia fresh. Saya harap Ibu-Ibu berani menerima tantangan perubahan untuk mulai memperhatikan gizi anak-anak, karena anak-anak yang terlahir, dipersiapkan lahir masa ini mereka lah yang akan menjadi pemimpin, penggerak ekonomi untuk menjadi Generasi Emas 2045,”tegas Noni.
Program Stimulus DKP
Kampanye Gemarikan sendiri merupakan Program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2004. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yopie Wijaya menyebutkan Kampanye Gemarikan diselenggarakan dalam rangkaian HUT Babel ke 25 dan juga perayaan Hari Ikan Nasional yang jatuh bersamaan yaitu pada tanggal 21 November. Ia menambahkan untuk tahun 2025 ini pemberian stimulus berupa paket olahan hasil perikanan dan produk segar yang diberikan sebanyak 1000 Paket makanan berbahan dasar ikan untuk Bayi dibawah dua tahun dan 448 Ibu hamil.
“Paket-paket tersebut kami distribusikan untuk dengan dua lokus Kabupaten yaitu Kabupaten Bangka pada dua kecamatan Sungailiat dan Kecamatan Mendo Barat. Di Kabupaten Bangka Selatan juga menyasar empat lokus kecamatan dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi yaitu Kecamatan Toboali, Air Gegas, Payung dan Simpang Rimba,” ujar Yopi. dengan lokus tahun ini meluncurkan program
Paket yang dibagikan berupa olahan ikan dan produk segar hasil perikanan, seperti bakso ikan, ikan teri, udang segar, dan ikan lele. Selain pembagian, dilakukan pula edukasi mendalam mengenai arti penting konsumsi ikan bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu hamil.
Kampanye Gemarikan di Kabupaten Bangka juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Kabupaten Bangka, Ibu Dini Fery Insani, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dodi Kusdian serta Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitug Rustamsyah.


