Pesisir Tuing Miliki Potensi Ekowisata Menarik

Pangkalpinang- Tim peneliti dari UPT Pusdalitbang Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendiseminasikan hasil penelitian mengenai kesiapan sosial,ekonomi dan budaya masyarakat nelayan Desa Mapur dalam pengembangan ekowisata pada Selasa(29/11) di Ruang Pertemuan Kantor Bappeda.
Sumber daya wilayah pesisir Desa Mapur merupakan ekosistem pesisir yang menyimpan potensi wisata yang cukup besar. Pesisir timur desa yang berada di Kabupaten Bangka ini masih bersifat alami dan indah, meliputi terumbu karang,hutan mangrove ,padang lamun dan pantai berpasir, hal ini yang kemudian mendorong Tim Peneliti Pusdalitbang Bappeda memilih Desa Mapur dan Pesisir Tuing sebagai lokus penelitian. Disamping itu ditengah gempuran penambangan timah ,wilayah pesisir dan laut Desa Mapur ini merupakan salah satu kawasan yang belum tersentuh oleh penambangan timah laut, karena masyarakatnya menolak adanya aktivitas penambangan di perairan tersebut.
Dalam paparan yang di sampaikan tim peneliti potensi ekowisata Desa Mapur diantaranya: snorkeling di daerah terumbu karang sepanjang perairan tuing mulai dari Pantai Pulau Pungur sampai ke arah Sungai Tengkalat. Disamping itu spot memancing terbentang luas di sepanjang perairan Tuing, situs bebatuan di sepanjang pesisir pantai Tuing mampu menjadi daya tarik wisata tersendiri. Peneliti Pusdalitbang Bappeda, Fitra Hartini menjelaskan bahwa Tanjung Samak yang terdiri dari empat buah bebatuan yaitu Batu Telapak Kaki Akek Antak, Batu Pare Akek, Batu Sabek dan Batu Gendang dapat diangkat menjadi objek wisata legenda "Legenda Batu Akek Antak yang sering diceritakan oleh orang tua jaman dulu dapat kembali didiseminasikan kepada wisatawan muda yang ingin mengunjungi situs wisata bersejarah tersebut" ungkap Fitra.
Secara Aspek Sosial,Ekonomi dan Budaya Fitra menilai bahwa masyarakat Pesisir Tuing dan Desa Mapur cukup siap dalam mengembangkan potensi ekowisata. "Masyarakat nelayan pesisir Tuing kami nilai cukup siap dan antusias dalam mengembangkan pariwisata, terlihat dari sejumlah nelayan yang kami wawancarai mengaku siap menjadi pemandu dan menjaga ekosistem pesisir untuk mendukung ekowisata di tuing" Lanjut Fitra.
Di akhir presentasi, tim peneliti menyimpulkan bahwa secara ekonomi kendala dalam pengembangan ekowisata disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap lembaga finansial formal sebagai sumber modal.
Dalam rekomendasi yang dimuat dalam presentasi Tim Peneliti menyarankan agar pengelolaan sumberdaya alam secara terpadu dengan melibatkan berbagai instansi terkait seperti Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta masyarakat lokal.
Yeyen Mardyan yang menjadi salah satu tim peneliti juga menambahkan agar pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pelaku ekowisata perlu ditingkatkan. "Masyarakat lokal sebagai aktor penggerak utama harus dilibatkan dan ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya"Tambah Yeyen. Oleh karena itu pelibatan secara aktif pemangku kepentingan mulai dari rencana pengelolaan, penetapan kawasan orientasi program dan kegiatan dilakukan dengan memfokuskan pemberdayaan masyarakat lokal" Tutup Yeyen.

Sumber: 
Humas DKP/MS
Penulis: 
Mutiah Sahiddin
Fotografer: 
Mutiah Sahiddin
Tags: 
Ekowisata Pesisir Babel

Berita

12/11/2015 | humas DKP(js)
625 kali dilihat
05/11/2015 | Humas DKP (js)
480 kali dilihat
20/08/2015 | Humas DKP (js)
477 kali dilihat
02/01/2016 | Humas DKP (js)
462 kali dilihat
04/09/2015 | Humas DKP (js)
434 kali dilihat